Latest Entries »

Terjadinya hujan sangat dipengaruhi oleh konveksi di atmosfer bumi dan lautan. Konveksi adalah proses pemindahan panas oleh gerak massa suatu fluida dari suatu daerah ke daerah lainnya. Air-air yang terdiri dari air laut, air sungai, air limbah, dan sebagainya tersebut umumnya mengalami proses penguapan atau evaporasi akibat adanya bantuan dari panas sinar matahari. Air tersebut kemudian menjadi uap melayang ke udara dan akhirnya terus bergerak menuju langit yang tinggi bersama uap-uap air yang lain.
Sesampai di atas, uap-uap mengalami proses pemadatan atau biasa disebut juga kondensasi sehingga terbentuklah awan. Akibat terbawa angin yang bergerak, awan-awan tersebut saling bertemu dan membesar dan kemudian menuju ke atmosfir bumi yang suhunya lebih rendah atau dingin dan akhirnya membentuk butiran es dan air. Karena terlalu berat dan tidak mampu lagi ditopang angin akhirnya butiran-butiran air atau es tersebut jatuh ke permukaan bumi, proses ini disebut juga proses presipitasi. Karena semakin rendah, mengakibatkan suhu semakin naik maka es/salju akan mencair, namun jika suhunya sangat rendah, maka akan turun tetap menjadi salju.

SUMBERLAIN

Proses terbentuknya hujan berawal dari penguapan yang terjadi di bumi akibat panas matahari, sehingga uap air ini selanjutnya terkumpul di udara lalu mengalami pemadatan (kondensasi). Hasil kondensasi ini yang di sebut awan, dan awan ini bergerak akibat hembusan angin dan membuat awan saling bertindih dan terus keatas hingga mencapai atmosfir yang suhunya lebih dingin, sehingga membentuk butiran-butiran air/es yang semakin berat dan pada akhirnya mengalami presipitasi yang disebut jatuhnya air ke bumi dan terjadi hujan.

Selain proses terjadinya hujan secara alami, ada juga proses terjadinya hujan buatan. Hujan buatan ini biasanya dibuat untuk daerah yang kadar hujannya sedikit dengan cara menabur garam pada awan yang memiliki kandungan air yang cukup dan memiliki kecepatan angin rendah yaitu sekitar di bawah 20 knot. Selain memakan biaya yang besar, proses pembentukan hujan buatan juga bisa mengalami kegagalan. Jadi mendingan hujan alami saja ya walaupun musim hujannya sudah tidak jelas, mungkin karena pemanasan global atau yang lainnya.

Sejarah Hujan buatan di dunia dimulai pada tahun 1946 oleh penemunya Vincent Schaefer dan Irving Langmuir, dilanjutkan setahun kemudian 1947 oleh Bernard Vonnegut.

Hujan Asam; Penyebab dan Proses Pembentukannya

Hujan asam merupakan salah satu dampak dari pencemaran udara yang mempengaruhi kegiatan ekonomi, social dan politik (Nam et.al, 2001). Kejadian hujan asam yang sering terjadi beberapa decade ini menjadi isu yang cukup penting untuk dibahas. Pemahaman akan femonena hujan asam diharapkan mampu menggugah perhatian masyarakat tentang upaya-upaya untuk menghadapinya serta mengetahui cara-cara untuk menanggulanginya.
Hubungan antara emisi kimia ke atmosfer dengan dampak yang ditimbulkan akibat hujan asam sangat kompleks baik dari segi lingkungan ekosistem, kesehatan manusia maupun pada benda-benda (Landsberg, 1995).
1. Pengertian
Hujan asam adalah suatu masalah lingkungan yang serius yang harus benar-benar difikirkan oleh umat manusia. Hujan asam merupakan istilah umum untuk menggambarkan turunnya asam dari atmosfir ke bumi. Sebenarnya turunnya asam dari atmosfir ke bumi bukan hanya dalam kondisi “basah” Tetapi juga “kering”. Sehingga dikenal pula dengan istilah deposisi ( penurunan / pengendapan ) basah dan deposisi kering (Laras, 2006). Bhatfi et.al (1992) mengemukakan bahwa hujan asam dapat terjadi ketika ada reaksi antara air, oksigen dan zat-zat asam lainnya di atmosfer. Sinar matahari akan mempercepat terjadinya reaksi antar zat-zat tersebut.
Deposisi basah mengacu pada hujan asam , kabut dan salju. Ketika hujan asam ini mengenai tanah, ia dapat berdampak buruk bagi tumbuhan dan hewan , tergantung dari konsentrasi asamnya, kandungan kimia tanah , buffering capacity ( kemampuan air atau tanah untuk menahan perubahan pH ), dan jenis tumbuhan/hewan yang terkena. Deposisi kering mengacu pada gas dan partikel yang mengandung asam. Sekitar 50% keasaman di atmosfir jatuh kembali ke bumi melalui deposisi kering. Kemudian angin membawa gas dan partikel asam tersebut mengenai bangunan, mobil, rumah dan pohon (Laras, 2006).
Ketika hujan turun ,partikel asam yang menempel di bangunan atau pohon tersebut akan terbilas, menghasilkan air permukaan (runoff) yang asam. Angin dapat membawa material asam pada deposisi kering dan basah melintasi batas kota dan Negara sampai ratusan kilometer. Untuk mengukur keasaman hujan asam igunakan pH meter. Hujan dikatakan hujan asam jika telah memiliki pH dibawah 5,0 ( Air murni mempunyai pH 7 ). Makin rendah pH air hujan tersebut , makin berat dampaknya bagi mahluk hidup.
2. Sumber
Lehr et. Al ( 2005) membagi 3 jenis polutan utama yang menyebabkan terjadinya hujan asam yaitu sulfur dioksida(SO2), nitrogen oksida (NOx) dan volatile organic compounds (VOCs) atau zat-zat organic yang mudah menguap. Sumber dari kandungan sulfur alami diudara sebagian besar sekitar 25 sampai 30% berasal dari letusan gunungapi seperti di El Chichon tahun 1982 atau Gunung Pinatubo pada tahun 1991. Hidrokarbon juga dapat menyebabkan hujan asam, asam karboksilik, HCOO, dan asam metilkarboksilik, CH3CO, merupakan hasil dari oksidasi emisi biota laut maupun darat. Selain secara alami gas sulfur juga berasal dari pembakaran batubara (Tjasyono, 2004, Lehr et. Al, 2005,) dan berasal dari emisi industri. Pada tahun 1983 United Nations Environment Programme memperkirakan besarnya sulfur yang dilepaskan antara 80-288 juta ton tiap tahunnya dan sekitar 69 juta ton diantaranya berasal dari aktivitas manusia. (http://www.ace.mmu.ac.uk, 2010).
Nitrogen oksida (NOr = NO + NO2) selain berasal dari letusan gunungapi, sumber dari zat ini adalah dari emisi tanah, kilat, pertukaran gas stratosfer-troposfer, dan pembakaran biomassa. NO merupakan hasil pembakaran bahan bakar hidrokarbon, baik bahan bakar fosil maupun dari biomassa. besarnya oksida nitrogen yang dilepaskan antara 20-90 juta ton tiap tahunnya dari alam dan sekitar 24 juta ton diantaranya berasal dari aktivitas manusia (http://www.ace.mmu.ac.uk), 2010). Amoniak dihasilkan dari emisi pupuk. Sumber-sumber pencemar ini berasar dari pembuangan asap mesin (kendaraan bermotor dan stasiun pembangkit energy) dan pembakaran biomassa (Tjasyono, 2004). Produksi N2O (termasuk CO2, HNO3, dan CH4) dapat menyebabkan dampak lain yaitu efek rumah kaca dimana N2O memiliki masa tinggal lebih dari 150 tahun di atmosfer sebelum terurai (Crutzen, 1987 dalam Lehr et. Al ( 2005).
Pembentukan

Fenomena Hujan Asam (http://en.wikipedia.org)
Hujan asam terdiri dari berbagai macam ion baik anion maupun kation. Kondisi keseimbangan ionnya adalah
[H] + [Nat] + [Na4] + 2[Ca2] = 2[SO421 + 2[S032] + [NOfl + [C1] + [OH] + [HCO3] + 2[CO32]
Hal utama yang mempengaruhi pH hujan adalah karbon dioksida (CO2) dalam bentuk asam karboksilik dalam air. Reaksi karbon dioksida adalah sebagai berikut
CO2 gas + H20 –> H2CO3 (2)
H2CO3 –>HCO3 + H (3)
HCO3 –>CO3 + H
Emisi SO2, NO, dan NH3 merupakan transformasi dari bentuk gas kemudian larut dalam air hujan dimana terjadi reaksi kimia antara gas dan air. Sulfur dioksida ditransformasikan sebagai berikut:
SO2+OH –> HOSO2
Dalam bentuk cair, reaksi lain dapat terjadi. Contohnya:
SO2 + H2O SO2 x H2O (14)
SO2 x H2O–> HSO3 + H (15)
HSO3 –> S032 + H
Nitirit oksida (NO) sangat cepat beroksidasi menjadi NO2, khususnya ketika bereaksi dengan ozon:
NO +O3–>NO2 +O2
Dari situ terlihat bahwa NO mengalami trasnformasi menjadi asam nitrit ketika bereaksi dengan hidroksida
NO2+OH–>HNO3
3. Cara Pengukuran
Hujan asam diukur menggunakan skala pH, air murni memiliki pH sekitar 7 sedangkan hujan yang normal bersifat agak asam karena adanya kandungan karbon dioksida yang terlarut didalamnya sehingga pH-nya sekitar 5,5. Pengukuran hujan asam dapat menggunakan botol, kemudian air hujan ditampung dalam botol tersebut. Dengan menggunakan indicator pH maka tingkat kebasaan maupun keasaman hujan dapat diketahui. Jika ingin mengetahui pengaruh hujan asam pada batuan sesuatu yang dapat dilakukan adalah menampung air hujan pada botol dengan corong terbalik, kemudian air yang tertampung diteteskan pada batuan yang diuji. Pengujian dapat dilakukaan pada batuan beku dan batuan sedimen. Sebagai contoh batuan beku yang diambil untuk sampel adalah batu andesit sedangkan batu sedimen berupa batu gamping. Sifat batu granit yang sudah asam maka ketika terkena tetes air hujan yang asam, batu tersebut tidak ikut terlarut. Sebaliknya, pada batu gamping yang memiliki sifat basa, maka batu gamping akan terlarut dan air yang melarutkan batu tersebut menjadi keruh.

A. PENYEBAB TERJADINYA HUJAN ASAM
HUJAN ASAM
Ada beberapa pendapat yang mengemukakan tentang penyebab terjadinya hujan asam, dalam hal ini saya mengutip dua pendapat yang di ambil dari internet.
Pendapat pertama :
Pada dasarnya Hujan asam disebabkan oleh 2 polutan udara, Sulfur Dioxide (SO2) dan nitrogen oxides (NOx) yang keduanya dihasilkan melalui pembakaran. Akan tetapi sekitar 50% SO2 yang ada di atmosfer diseluruh dunia terjadi secara alami, misalnya dari letusan gunung berapi maupun kebakaran hutan secara alami. Sedangkan 50% lainnya berasal dari kegiatan manusia, misalnya akibat pembakaran BBF, peleburan logam dan pembangkit listrik. Minyak bumi mengadung belerang antara 0,1% sampai 3% dan batubara 0,4% sampai 5%. Waktu BBF di bakar, belerang tersebut beroksidasi menjadi belerang dioksida (SO2) dan lepas di udara. Oksida belerang itu selanjutnya berubah menjadi asam sulfat (Soemarwoto O, 1992).
Pendapat kedua :
1. Hujan asam disebabkan oleh terbentuknya asam di udara akibat bertemunya uap air dengan gas gas pembentuk asam. Biasanya terjadi karena pencemaran udara di sekitar pabrik. Gas yang sering menjadi penyebab hujan asam antara lain:
1. CO2 / karbon dioksida dan CO / karbon monoksida, yang berasal dari hasil pembakaran, polusi kendaraan bermotor, dll., yang ketika bertemu dengan uap air / H2O akan membentuk H2CO3 / asam karbonat yang termasuk asam lemah.
2. H2S / hidrogen sulfida, SO2 / sulfur dioksida, yang berasal dari pembakaran / pemanasan belerang. Umumnya ditemukan di daerah industri berat, yang ketika bertemu dengan uap air / H2O akan membentuk H2SO4 / asam sulfat yang termasuk asam kuat.
B. Derajat keasaman hujan asam tergantung kepekatan asamdalam udara, yang secara tidak langsung, sama artinya dengan derajat pencemaran udara di udara. Pada keadaan normal, hujan sebenarnya sudah bersifat asam karena keberadaan CO2 di udara. Tapi pHnya tidak jauh di bawah 7. Tapi pada daerah dengan pencemaran udara berat, keasamannya jauh lebih rendah lagi.
C. Ada hubungan langsung antara hujan asam dengan korosi. Korosi, adalah pelapukan logam oleh zat zat oksidator. Asam, merupakan zat yang dapat dengan mudah mengoksidasi logam. Jadi ketika terjadi hujan asam, dapat dipastikan terjadi korosi pada logam yang terkena air hujan tersebut.
B. PROSES TERJADINYA HUJAN ASAM
Hujan asam didefinisikan sebagai segala macam hujan dengan pH di bawah 5,6. Hujan secara alami bersifat asam (pH sedikit di bawah 6) karena karbondioksida (CO2) di udara yang larut dengan air hujan memiliki bentuk sebagai asam lemah. Jenis asam dalam hujan ini sangat bermanfaat karena membantu melarutkan mineral dalam tanah yang dibutuhkan oleh tumbuhan dan binatang.
Hujan asam disebabkan oleh belerang (sulfur) yang merupakan pengotor dalam bahan bakar fosil serta nitrogen di udara yang bereaksi dengan oksigen membentuk sulfur dioksida dan nitrogen oksida. Zat-zat ini berdifusi ke atmosfer dan bereaksi dengan air untuk membentuk asam sulfat dan asam nitrat yang mudah larut sehingga jatuh bersama air hujan. Air hujan yang asam tersebut akan meningkatkan kadar keasaman tanah dan air permukaan yang terbukti berbahaya bagi kehidupan ikan dan tanaman.
Hujan asam didefinisikan sebagai segala macam hujan dengan pH di bawah 5,6. Hujan secara alami bersifat asam (pH sedikit di bawah 6) karena karbondioksida (CO2) di udara yang larut dengan air hujan memiliki bentuk sebagai asam lemah. Jenis asam dalam hujan ini sangat bermanfaat karena membantu melarutkan mineral dalamtanah yang dibutuhkan oleh tumbuhan dan binatang. Istilah Hujan asam pertama kali diperkenalkan oleh Angus Smith ketika ia menulis tentang polusi industri di Inggris). Tetapi istilah hujan asam tidaklah tepat, yang benar adalah deposisi asam
Deposisi asam disebabkan oleh belerang (sulfur) yang merupakan pengotor dalam bahan bakar fosil serta nitrogen di udara yang bereaksi dengan oksigen membentuk surful dioksida dan nitrogen oksida. Zat-zat ini berdifusi ke atmosfer dan bereaksi dengan air untuk membentuk asam sulfat dan asam nitrat yang mudah larut sehingga jatuh bersama air hujan. Air hujan yang asam tersebut akan meningkatkan kadar keasaman tanah dan air permukaan yang terbukti berbahaya bagi kehidupan ikan dan tanaman. Usaha untuk mengatasi hal ini saat ini sedang gencar dilaksanakan.
Deposisi asam ada dua jenis, yaitu deposisi kering dan deposisi basah. Deposisi kering ialah peristiwa terkenanya benda dan mahluk hidup oleh asam yang ada dalam udara. Ini dapat terjadi pada daerah perkotaan karena pencemaran udara akibat kendaraan maupun asap pabrik. Selain itu deposisi kering juga dapat terjadi di daerah perbukitan yang terkena angin yang membawa udara yang mengandung asam. Biasanya deposisi jenis ini terjadi dekat dari sumber pencemaran.
Deposisi basah ialah turunnya asam dalam bentuk hujan. Hal ini terjadi apabila asap di dalam udara larut di dalam butir-butir air di awan. Jika turun hujan dari awan tadi, maka air hujan yang turun bersifat asam. Deposisi asam dapat pula terjadi karena hujan turun melalui udara yang mengandung asam sehingga asam itu terlarut ke dalam air hujan dan turun ke bumi. Asam itu tercuci atau wash out. Deposisi jenis ini dapat terjadi sangat jauh dari sumber pencemaran.
Hujan secara alami bersifat asam karena Karbon Dioksida (CO2) di udara yang larut dengan air hujan memiliki bentuk sebagai asam lemah. Jenis asam dalam hujan ini sangat bermanfaat karena membantu melarutkan mineral dalam tanah yang dibutuhkan oleh tumbuhan dan binatang.
Pada dasarnya Hujan asam disebabkan oleh 2 polutan udara, Sulfur Dioxide (SO2) dan nitrogen oxides (NOx) yang keduanya dihasilkan melalui pembakaran. Akan tetapi sekitar 50% SO2 yang ada di atmosfer diseluruh dunia terjadi secara alami, misalnya dari letusan gunung berapi maupun kebakaran hutan secara alami. Sedangkan 50% lainnya berasal dari kegiatan manusia, misalnya akibat pembakaran bahan bakar fosil (BBF), peleburan logam dan pembangkit listrik. Minyak bumi mengadung belerang antara 0,1% sampai 3% dan batubara 0,4% sampai 5%. Waktu BBF di bakar, belerang tersebut beroksidasi menjadi belerang dioksida (SO2) dan lepas di udara. Oksida belerang itu selanjutnya berubah menjadi asam sulfat (Soemarwoto O, 1992).
Menurut Soemarwoto O (1992), 50% nitrogen oxides terdapat di atmosfer secara alami, dan 50% lagi juga terbentuk akibat kegiatan manusia, terutama akibat pembakaran BBF. Pembakaran BBF mengoksidasi 5-50% nitrogen dalam batubara ,40-50% nitrogen dalam minyak berat dan 100% nitrogen dalam mkinyak ringan dan gas.Makin tinggi suhu pembakaran, makin banyak Nox yang terbentuk.
Selain itu NOx juga berasal dari aktifitas jasad renik yang menggunakan senyawa organik yang mengandung N. Oksida N merupakan hasil samping aktifitas jasad renik itu. Di dalam tanah pupuk N yang tidak terserap tumbuhan juga mengalami kimi-fisik dan biologik sehingga menghasilkan N. Karena itu semakin banyak menggunakan pupuk N, makin tinggi pula produksi oksida tersebut.
Senyawa SO2 dan NOx ini akan terkumpul di udara dan akan melakukan perjalanan ribuan kilometer di atsmosfer, disaat mereka bercampur dengan uap air akan membentuk zat asam sulphuric dan nitric. Disaat terjadinya curah hujan, kabut yang membawa partikel ini terjadilah hujam asam. Hujan asam juga dapat terbentuk melalui proses kimia dimana gas sulphur dioxide atau sulphur dan nitrogen mengendap pada logam serta mengering bersama debu atau partikel lainnya.
Sumber:http://id.wikipedia.org/wiki/Hujan_asam&
http://anafio.multiply.com/reviews/item/5
C. GAMBARAN PROSES TERJADINYA HUJAN ASAM
Atmosfir dapat mengangkut berbagai zat pencemar ratusan kilometer jauhnya, sebelum menjatuhkannya ke permukaan bumi dalam perjalanan jauh itu atmosfir bertidak sebagai reaktor kimia yang kompleks merubah zat pencemar setelah berinteraksi dengan substansi lain, uap air dan energi matahari. Pada kondisi tertentu sulfur oksida (SOx) dan nitrogen oksida (NOx) hasil pembakaran bahan bakar fosil akan bereksi dengan molekul-molekul uap air di atmosfir menjadi asam sulfat (H2SO4) dan asam nitrat (HNO3) yang selanjutnya turun ke permukaan bumi bersama air hujan yang dikenal hujan asam.
Hujan asam telah menimbulkan masalah besar di daratan Eropa, Amerika Serikat dan di Negara Asia termasuk Indonesia. Dampak negatif dari hujan asam selain rusaknya bangunan dan berkaratnya benda-benda yang terbuat dari logam, juga terjadinya kerusakan lingkungan terutama mengasakan (acidification) danau dan sungai. Ribuan danau airnya telah bersifat asam sehingga tidak ada lagi kehidupan akuatik, dikenal dengan “danau mati”.

Gambar Proses terjadinya hujan asam
Pada tahun 1970-an, para ilmuwan dari AS dan Kanada menemukan bahwa hujan dan salju asam jatuh di seluruh wilayah AS bagian timur, di Kanada bagian tenggara, dan di beberapa wilayah sekitar kota-kota di bagian barat. Pada tahun 1980-an, hujan asam menyebar ke wilayah bagian selatan dan barat hingga menyebrangi AS. Para ilmuwan telah berhasil mempelajari penyebab terjadinya hujan asam tersebut. Sumber S02 yang paling utama adalah di Mississipi bagian hulu dan lembah Ohio, keduanya merupakan tempat yang banyak terdapat pembangkit listrik tenaga uap berbahan bakar batubara.
Senyawa SO2 yang dilepaskan ke udara berubah menjadi asam sulfat dalam waktu 2-3 hari, dan hujan asam yang diakibatkannya dapat Il)encapai wilayah sejauh 800-1.600 km.

Metabolisme energi

Metabolisme energi pada kuliah kami meliputi pembahasan sebagai berikut:
ATPNWW
Biokim_KH_1B_STP_NWW_KDR
Biokim_Metabolisme
Pengantar_metabolisme
INTRO_LIPIDS
BIOLOGICAL_N_FIXATION
AMINO_ACID
NITRATE_ASSIMILATION
NUCLEIC_ACID

tugas biokimia
klik disini bersama dwi yudha

LAPORAN PRAKTIKUM DASAR PERLINDUNGAN TANAMAN (DPT)
MATERI : VARIETAS TAHAN

DisusunOleh:

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2011

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LatarBelakang
Interaksi antara tanaman dan serangga terjadi secara komplek dan berlangsung sangat lama dan terus-menerus. Tanaman mengembangkan sistem pertahanan diri terhadap serangan serangga, sementara serangga berupaya untuk mengembangkan sistem adaptasi untuk dapat mengatasi sistem pertahanan tanaman.
Fenomena adanya interaksi antara tanaman dengan serangga herbivor telah lama diketahui, diantaranya adalah ditemukannya tanaman yang tidak atau kurang diserang hama diantara tanaman-tanaman yang dibudidayakan, sehingga tanaman tersebut memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan dengan tanaman lainnya yang sejenis. Tanaman yang tidak atau kurang diserang oleh hama tersebut kemudian disebut sebagai tanaman resisten. Berbagai teori tentang resistensi tanaman ini kemudian dikembangkan dan dibuktikan dengan penelitian yang menunjukkan bahwa tanaman mempunyai suatu mekanisme pertahanan. Mekanisme pertahanan tanaman merupakan sebuah manifestasi respon tanaman terhadap serangan serangga herbivor untuk menghindari atau mengurangi kerusakan yang ditimbulkannya. Informasi mekanisme pertahanan tanaman terhadap serangga hama merupakan informasi yang sangat penting bagi para pemulia tanaman untuk dapat menyilangkan tanaman resisten dengan tanaman yang berproduksi tinggi, dengan harapan akan dihasilkan tanaman ideal yang resisten terhadap hama sekaligus memiliki produktivitas tinggi
Varietastanaman yang tahanterhadaphamaakanselaludidambakanpetanidanmerupakansalahsatukomponenpentingdalampengendalianhamasecaraterpadu, olehkarenaitupengadaannyaperluterusdiupayakan. Varietasdenganketahanantunggal (vertical resistance) mudahpataholehtimbulnyabiotipehamabaru. Karenaituperludiupayakanuntukmerilisvarietasdenganketahananhorisontalatauketahananganda (multiple resistance) ataumultilini.

1.2 Tujuan
1. Mengetahuidefinisivarietastahan
2. Mengetahuimacamsifatketahanantanaman
3. Mengetahuimekanismeketahanantanaman
4. Mengetahuikelebihandankekuranganpenggunaanvarietastahan

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 DefinisiVarietasTahan

Varietastahanmerupakankomponenpengendalianhama yang menyerangtanaman, dalampemanfaatanvarietasbibitunggul.
(Anonymous a, 2011)
Varietastahanadalahketahanantanamanpadaseranggameliputisemuaciridansifattanaman yang memungkinkantanamanterhindar, mempunyaidayatahanataudayasembuhdariseranggadalamkondisi yang akanmenyebabkankerusakanlebihbesarpadatanaman lain dari species yang sama.
(Painter, R.H., 1958)
Varietastahanadalahsalahsatukomponenteknologialternatifdalammenekanseranganhama.
(Arrahman, 2011)
2.2 Macam – MacamSifatKetahananTanaman
KetahananVertikal :
Tipeketahananinidikendalikanoleh gen tunggal (monogenik) atauolehbeberapa gen danhanyaefektifterhadapbiotipehamatertentu.
Secaraumumsifatketahananvertikalmempunyaiciri-ciri :
– biasanyadiwariskanoleh gen tunggalatauhanyasejumlahkecil gen
– relatifmudahdiidentifikasidanbanyakdipakaidalam program perbaikanketahanangenetik
– menghasilkanketahanangenetiktingkattinggi, tidakjarangmencapaiimunitas, tetapijikatimbulbiotipebarumakaketahananiniakanmudahpatahdanbiasanyatanamanmenjadisangatrentanterhadapbiotipetersebut
– biasanyamenundaawalterjadinyaepidemi, tetapiapabilaterjadiepidemimakakerentanannyatidakakanberbedadengankultivar yang rentan.
 KetahananHorisontal :
Memberikanbatasanumumketahanan horizontal sebagaisuatutipeketahanannir-spesifik yang berlakuterhadapsemuajenisbiotipedarisuatuhama. Varietasdengantipeketahanandemikiandapatdiperolehdengancaramempersatukanbeberapa gen ketahanan minor kedalamsuatuvarietasdengankarakteragronomik yang unggulmelaluipemuliaan.
Ciri-cirikhususdarisifatketahananhorisontal :
– biasanyamemilikitingkatketahanan yang lebihrendahdibandingkandengantipeketahananvertikal, danjarangdidapatimmunitas
– diwariskansecarapoligenikdandikendalikanolehbeberapaataubanyak gen,
– pengaruhnyaterlihatdaripenurunanlajuperkembanganepidemi. Ketahanan horizontal disebutjugaketahanankuantitatif. Tanamanyangmemilikiketahanandemikianmasihmenunjukansedikitkepekaanterhadaphamatetapimemilikikemampuanuntukmemperlambatlajuperkembanganepidemi.
 VarietasMultilini :
Multiliniadalahcampuranbeberapagalurkomponennya, masing-masingdenganfenotipe yang samatetapidengan gen yang berbedauntukketahananterhadaphamakhusus. Pengembanganvarietasmultilinimenyangkutsuatu program pemuliaan yang luasuntukmengidentifikasi gen-gen ketahanandanmenyilang-balikgalur-galurisogenik.Dengancaramenyatukanbeberapa gen major kedalamsuatuisogenik, campuranlini-linitersebutakanmenyusunsuatuvarietasmultilini. Varietasmultiliniakanmemberikankeragamanantarasatudengan yang lain dalamsatupertanamansehinggaakanmengurangiperkembanganhama. Cara inimerupakansuatuusahauntukmengurangikepekaangenetik yang biasadialamiolehvarietasdenganketahananvertikal.
(Sumarno, 1992)
2.3 MekanismeKetahananTanaman
– Antixenosis (nonpreference)
suatumekanismeketahanandansuatutanaman yang manabisamembuatseranggamenjauhitanaman, seranggatidakmaumenggunakantanamansebagaiinang.
– Toleran
suatubentukmekanismeketahanantanamanapabilatanamantersebutterseranghamaataupenyakit, tanamanitumasihbisaberproduksi
– Antibiosis
Suatubentukmekanismeketahanantanaman yang melibatkanunsurantibiotik

(TimDosen, 2011)
2.4 KelebihandanKekuranganVarietasTahan
 Kelebihanpenggunaanvarietastahan
– Dari segiekologismempunyaikekhususan
– Bersifatkomulatif, mudahdiadopsiolehpetani
– AmandanEkonomis
– Dapatmenghambatperkembanganserangga yang bertindaksebagai vector penyakit.
– Adanyasifatkeserasiandengancarapengendalian yang lain.
Kekuranganpenggunaanvarietastahan
– Sulituntukmendapatkantanamantahan
– Keterbatasandarisumber genetic
– Tidakberlakunyasifatketahanandidaerahdengankondisigeografik yang Berbeda
– Munculnyabiotipebaruakanmembatasiwaktudanruangdankegunaanbatas-batasketahanan.
– Trait resistance/ ketahanan yang berlawanan
(Tim Dosen, 2011)

BAB III
METODOLOGI

3.1 Alat, BahandanFungsi
Alat :
Kardusbekas : untukwadahpenyimpananCylasformicarius
Modul : Sebagaipanduansaatpraktikum
AlatTulis : Mencatathasilpraktikum
Camera : Untukmendokumentasikanhasilpengamatan
 Bahan :
UbiBongkeng (Cylasformicarius) : Sebagai specimen pengamatan
Umbiubijalartahanhama : Sebagaibahanpengamatan
Umbiubijalarpekahama : Sebagaibahanpengamatan

3.2 Cara Kerja

BAB IV
PEMBAHASAN

4.1 TabelPengamatan

No Bahan Pengamatan Jumlah hama sebelum pengamatan Jumlah hama sesudah pengamatan Keterangan
1 Umbi yang peka 1 0 Hama Mati
2 Umbi yang tahan – – –

4.2 AnalisisHasil
Hasilpengamatanmenunjukkanbahwavarietasubi yang di gunakandalampraktikuminitahanterhadaphamabongkeng (Cylasformicarius). Di manasetelahubi yang terindikasiterseranghama di masukkandalamkotakpreferensi, selamasatuminggu. Setelahsatumingguberjalandankotakpreferensi di buka, hama yang sebelumnyamenyerangubitidakterdeteksidanterlihatlagi. Hal itumembuktikanbahwaubi yang di amatitersebutmerupakanubi yang resistenterhadaphamabongkeng.

BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Varietastahanadalahvarietas yang mempunyaikemampuanataukeunggulanuntukmenolakataumenghindar, sembuhkembalidanmentolelirseranganhamapenyakit yang tidakdimilikiolehvarietassejenisdanpadatingkatserangan yang sama.
Mekanismeketahanantanamanadatigamacamyaitu :
a. Antixenosis (nonpreference)
suatumekanismeketahanandansuatutanaman yang manabisamembuatseranggamenjauhitanaman, seranggatidakmaumenggunakantanamansebagaiinang.
b. Toleran
suatubentukmekanismeketahanantanamanapabilatanamantersebutterseranghamaataupenyakit, tanamanitumasihbisaberproduksi
c. Antibiosis
Suatubentukmekanismeketahanantanaman yang melibatkanunsurantibiotik
Penggunaanvarietastahansendirimempunyaikelebihandankekurangantersendri, adapunkelebihandankekuranganituantaralain :
Kelebihanpenggunaanvarietastahan :
Dari segiekologismempunyaikekhususan,Bersifatkomulatif, mudahdiadopsiolehpetani,AmandanEkonomis,Dapatmenghambatperkembanganserangga yang bertindaksebagai vector penyakit,Adanyasifatkeserasiandengancarapengendalian yang lain.
Kekuranganpenggunaanvarietastahan :
Sulituntukmendapatkantanamantahan,Keterbatasandarisumber genetic, Tidakberlakunyasifatketahanandidaerahdengankondisigeografik yang Berbeda, Munculnyabiotipebaruakanmembatasiwaktudanruangdankegunaanbatas-batasketahanan, Trait resistance/ ketahanan yang berlawanan
5.2 Saran
Jujursayatidakbisamemberi saran apa – apa, yang bisasayalakukanhanyamintamaafsecarapribadikak. Dimanasayadanteman – temansayaseringtidakbawaspesimendanbahanpraktikumsertaseringmembuatkakakkesaldanterkadangmarah.Yang bisasayaucapakanlewatsiniadalahterimakasihatasbimbingannyaselamapraktikum DPT selamainidanterimakasihjugaatasilmu – ilmubaru yang telahkakakberikandandapatbergunabagisayakhusunyadanteman – temansayaumumnya.

DAFTAR PUSTAKA

Anonymousa, 2011 http://www.pikiran-rakyat.com/node/160171. 3 Desember 2011
Arrahman, ayyub.2011.Resensi HasilTeknologiPengendalian Hama KumbangBubukPadaTanamanJagung.PoliteknikPertanianNegeriPangkep.Pangkep
Painter, R.H., 1958.Resistance of plants to insects.Annual Review of Entomology 3: 267-290.
Sumarno, 1992.Pemuliaanuntukketahananterhadaphama. Prosiding symposium PemuliaanTanaman I. PerhimpunanPemuliaanTanaman Indonesia, Komisariat Daerah JawaTimur
Tim DosenJurusan Hama danPenyakitTumbuhan. 2011. MODUL PENUNTUN PRAKTIKUM DASAR PERLINDUNGAN TANAMAN. FP UB 2011. Malang

Laporan Praktikum Dasar Perlindungan Tanaman Materi : Pengenalan Pengendalian dengan Varietas Tahan

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dalam studi Dasar Perlindungan Tanaman terdapat suatu konsep segitiga interaksi antara tanaman, lingkungan dan hama. Dari komponen tanaman terdapat dua jenis tanaman yaitu, tanaman peka dan tanaman tahan. Kemudian, tanaman tahan terbagi atas tanaman toleran, Antibiosis dan Antisinosis.
Salah satu cara pengendalian hama dan penyakit tanaman adalah pengendalian dengan kualitas tahan, dimana maksudnya adalah menggunakan tanaman dengan varietas tahan agar tidak merusak maupun mengganggu keseimbangan ekosistem.
1.2 Tujuan
a. Mahasiswa mengetahui dan memahami definisi tanaman dengan varietas tahan.
b. Mahasiswa memahami mekanisme dan sifat-sifat tahan dari suatu tanaman.
c. Mahasiswa mengetahui dan memahami kelebihan dan kekurangan penggunaan varietas tahan.
d. Mahasiswa memahami efektifitas pengendalian dengan memanfaatkan varietas tanaman tahan
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definsi varietas tahan
a. Varietas tahan adalah sifat tanaman yang menderita kerusakan yang lebih
sedikit dibandingkan dengan tanaman lain dalam keadaan tingkat populasi
hama yang sama dan keadaan lingkungan yang sama. (Tuhfah,2011)
b. Varietas tahan adalah suatu sifat genetic tanaman yang mampu menghasilkan
produk yang lebih banyak dan lebih baik dibandingkan dengan varietas lain
pada tingkat populasi hama yang sama. (Samsudin,2011)
c. Varietas tahan adalah sifat tanaman yang memungkinkan tanaman itu
menghindar datau pulih kembali dari serangan hama pada keadaan yang akan
mengakibatkan kerusakan pada varietas lain yang tidak tahan. (Samsudin,2011)
2.2 Macam-macam sifat ketahanan tanaman
Ketahanan tanaman inang terhadap hama, dapat bersifat : (1) genetik, yaitu sifat tahan yang diatur oleh sifat-sifat genetik yang dapat diwariskan, (2) morfologi, yaitu sifat tahan yang disebabkan oleh sifat morfologi tanaman yang tidak menguntungkan hama, dan (3) ekologi, yaitu ketahanan tanaman yang disebabkan oleh pengaruh faktor lingkungan.
3.1. Ketahanan Genetik
Berdasarkan susunan dan sifat-sifat gen, ketahanan genetik dapat dibedakan menjadi : (1) monogenik, sifat tahan diatur oleh satu gen dominan atau resesif, (2) oligogenik, sifat tahan diatur oleh beberapa gen yang saling menguatkan satu sama lain, (3) polygenik, sifat tahan diatur oleh banyak gen yang saling menambah dan masing-masing gen memberikan reaksi yang berbeda-beda terhadap biotipe hama sehingga mengakibatkan timbulnya ketahanan yang luas. Ketahanan genetik juga dapat dibedakan menjadi beberapa tipe : (1) ketahanan vertikal, ketahanan hanya terhadap satu biotipe hama, dan biasanya bersifat sangat tahan tetapi mudah patah oleh munculnya biotipe baru, (2) ketahanan horizontal atau ketahanan umum, ketahanan terhadap banyak biotipe hama dengan derajat ketahanan “agak tahan “, dan (3) ketahanan ganda, memiliki sifat tahan terhadap beberapa jenis hama.
Tipe ketahanan vertikal dikendalikan oleh gen tunggal (monogenik) atau oleh beberapa gen (oligogenik ) dan hanya efektif terhadap biotipe hama tertentu. Secara umum sifat ketahanan vertikal mempunyai ciri-ciri : (1) biasanya diwariskan oleh gen tunggal atau hanya sejumlah kecil gen, (2) relatif mudah diidentifikasi dan banyak dipakai dalam program perbaikan ketahanan genetik, (3) biasanya dikaitkan dengan hipotesis “gen for gen” dari flor, (4) menghasilkan ketahanan genetik tingkat tinggi, tidak jarang mencapai imunitas, tetapi jika timbul biotipe baru maka ketahanan ini akan mudah patah dan biasanya tanaman menjadi sangat rentan terhadap biotipe tersebut, dan (5) biasanya menunda awal terjadinya epidemi, tetapi apabila terjadi epidemi maka kerentanannya tidak akan berbeda dengan kultivar yang rentan
Tipe Ketahanan horizontal disebut juga ketahanan kuantitatif. Tanaman yang memiliki ketahanan demikian masih menunjukan sedikit kepekaan terhadap hama tetapi memiliki kemampuan untuk memperlambat laju perkembangan epidemi. Secara teoritis, ketahanan horisontal efektif untuk semua biotipe suatu hama. Oleh karena itu, umumnya sulit dipatahkan meskipun muncul biotipe baru dengan daya serang yang lebih tinggi. Varietas dengan tipe ketahanan demikian dapat diperoleh dengan cara mempersatukan beberapa gen ketahanan minor ke dalam suatu varietas dengan karakter agronomik yang unggul melalui pemuliaan konvensional maupun non-konvesional. Ciri-ciri khusus ketahanan horizontal adalah : (1) biasanya memiliki tingkat ketahanan yang lebih rendah dibandingkan dengan tipe ketahanan vertikal, dan jarang didapat immunitas, (2) diwariskan secara poligenik dan dikendalikan oleh beberapa atau banyak gen, (3) pengaruhnya terlihat dari penurunan laju perkembangan epidemi.
Berdasarkan gambaran di atas dapat disimpulkan, bahwa pemanfaatan varietas unggul dengan tipe ketahanan horisontal akan efektif terutama bila pada daerah pertanaman terdapat beberapa biotipe hama, karena varietas ini mempunyai beberapa gen pengendali ketahanan (poligenik) sehingga akan mampu mengendalikan serangan beberapa biotipe hama. Salah satu kerugian pemanfaatan varietas unggul dengan ketahanan horizontal adalah karena sifat ketahanan ini masih memungkinkan terjadinya infestasi oleh hama. Walaupun tingkat infestasi tersebut tidak menimbulkan kerugian ekonomik, tetapi tingkat penerimaan konsumen mungkin menjadi rendah. Misalnya, rendahnya permintaan konsumen atas buah yang luka atau sedikit berlubang, juga hasil biji-bijian yang berubah warnanya akibat serangan hama
3. 2. Ketahanan Morfologi
Bentuk fisik dan struktur jaringan tanaman mempengaruhi penggunaannya sebagai inang oleh serangga. Dalam Tabel 1 dapat dilihat beberapa faktor fisik tanaman yang menyebabkan ketahanan dan pengaruhnya terhadap serangga
3. 3. Ketahanan Ekologi
Ketahanan ekologi atau ketahanan kelihatan (apparent resistance) atau ketahanan palsu (pseudo resistance) dikendalikan oleh keadaan lingkungan. Ketahanan ekologi ini tidak diturunkan dan tergantung dari kekuatan tekanan dari lingkungan. Ada 3 bentuk ketahanan ekologi yaitu; a) pengelakan inang (escape), misalnya fenologi tanaman dan fenologi serangga sangat jauh berbeda, b) ketahanan dorongan, misalnya; ketahanan yang disebabkan adanya unsur hara N,P,K yang sangat mempengaruhi populasi hama, contohnya adalah Aphis sangat peka terhadap kandungan N pada tanaman dan mempunyai respon negatif terhadap kandungan K, c) ketahanan karena luput dari serangan hama, hal ini terjadi dikarenakan serangga hama menyerang tanaman inang secara acak, sehingga ada beberapa tanaman luput dari serangan.
Tabel 1. Faktor-faktor ketahanan morfologi yang umum ditemukan pada tanaman
Faktor-faktor tanaman Pengaruhnya terhadap serangga
Ketebalan dinding sel, peningkatan kekerasan jaringan
Pemulihan jaringan-jaringan yang terluka
Kekokohan dan sifat-sifat lain dari batang
Rambut-rambut
Akumulasi lilin pada permukaan
Kandungan silica Gangguan pada makan dan mekanisme peletakan telur
Serangga mati setelah pelukaan awal
Gangguan pada makan, mekanisme peletakan telur, dehidrasi telur
Pengaruh pada makan, pencernaan, peletakan telur, daya gerak, menempel, pengaruh racun dan pengacauan oleh alelokimia kelenjar rambut, halangan sebagai tempat tinggal
Pengaruh pada kolonisasi dan peletakan telur
Abrasi kutikula, hambatan makan
Berbagai pengaruh
(Samsudin,2011)
2.3 Mekanisme ketahanan tanaman
Mekanisme resistensi tanaman terhadap serangan hama dan penyakit ke dalam 3 bentuk, yaitu:
a. Ketidaksukaan (non preferences) atau juga disebut antixenotis, yaitu menolak kehadiran serangga pada tanaman. Bentuk mekanisme resistensi non preferences dibagi dalam dua kelompok, yaitu: antixenotis kimiawi, menolak kerana adanya senyawa allelokimia, dan antixenotis fisik, menolak karena adanya struktur atau morfologik tanaman.
b. Antibiotis yaitu semua pengaruh fisiologis pada hama yang merugikan dan bersifat sementara atau yang tetap, yang merupakan akibat dari hama yang memakan dan mencerna jaringan atau cairan tanaman tertentu. Gejala-gejala akibat antibiotis pada hama diantaranya, adalah: kematian larva atau pradewasa, pengurangan laju pertumbuhan, peningkatan mortalitas pupa, ketidakberhasilan dewasa keluar dari pupa, imago tidak normal dan fekunditas serta fertilitas rendah, masa hidup serangga berkurang, terjadi malformasi morfologik, kegagalan mengumpulkan cadangan makanan dan kegagalan hibernasi, perilaku gelisah dan abnormalitas lainnya.
Gejala-gejala abnormal tersebut terjadi diakibatkan oleh beberapa hal, antara lain: adanya metabolit toksik pada jaringan tanaman seperti alkaloid, glukosid dan quinon, tidak ada atau kurang tersedianya unsur nutrisi utama bagi hama, ketidakseimbangan perbandingan unsur-unsur nutrisi yang tersedia, adanya antimetabolit yang menghalangi ketersediaan beberapa unsur nutrisi bagi hama, dan adanya enzim-enzim yang mampu menghalangi proses pencernaan makanan dan pemanfaatan unsur nutrisi oleh serangga.
c. Toleran merupakan respon tanaman terhadap hama, sehingga beberapa ahli tidak memasukannya dalam ketahanan. Beberapa faktor yang mengakibatkan tanaman toleran terhadap serangan hama, adalah:
• kekuatan tanaman secara umum,
• pertumbuhan kembali jaringan tanaman yang rusak,
• ketegaran batang dan ketahanan terhadap rebah,
• produksi cabang tambahan,
• pemanfaatan lebih efisien oleh serangga dan kompensasi lateral oleh tanaman tetangganya.
Ketahanan tanaman inang terhadap hama, dapat bersifat :
(1) genetik, yaitu sifat tahan yang diatur oleh sifat-sifat genetik yang dapat diwariskan,
(2) morfologi, yaitu sifat tahan yang disebabkan oleh sifat morfologi tanaman yang tidak menguntungkan hama, dan
(3) ekologi, yaitu ketahanan tanaman yang disebabkan oleh pengaruh faktor lingkungan.
(Sylvia,2011)
2.4 Kelebihan dan kekurangan penggunaan varietas tahan
Sebagai komponen PHT beberapa kelebihan penggunaan varietas tahan hama adalah:
1. Penggunaan praktis dan secara ekonomi menguntungkan
2. Sasaran pengendalian yang spesifik
3. Evektifitas pengendalian bersifat komulatif dan persisten
4. Kompatibilitas dengan komponen PHT lainnya
5. Dampak negative terhadap lingkungan terbatas
Disamping keuntungan-keuntungan tersebut diatas teknik pengendalian ini juga memiliki beberapa keterbatasan atau permasalahan yang perlu kita ketahui antara lain:
1. Waktu dan biaya pengembangan yang besar
2. Keterbatasan sumber ketahanan
3. Timbulnya biotipe hama
4. Sifat ketahanan yang berlawanan
(Tuhfah,2011)
BAB III
METODOLOGI
3.1 Alat dan Bahan (beserta fungsi)
 Alat
a. Kotak preferensi : sebagai tempat menyimpan tanaman dan imago hama bongkeng
 Bahan
a. Ubi jalar (warna ungu) : sebagai tanaman inang
b. Imago hama bongkeng : sebagai hama
3.2 Cara Kerja





BAB IV
PEMBAHASAN
4.1 Tabel Pengamatan (sebelum dan sesudah pengamatan)
No. Bahan pengamatan Jumlah hama sebelum pengamatan Jumlah hama sesudah pengamatan Keterangan
1. Ubi jalar 5 0 Ubi tetap utuh seperti semula
4.2 Analisa Hasil Pengamatan
Berdasarkan hasil pengamatan, ubi jalar yang di uji coba merupakan tanaman dengan varietas tahan,sebab, pada ubi tersebut tampak gejala-gejala serangan dari imago Cylas formicarius, dan tetap utuh seperti semula, sedangakan imago Cylas formicarius jumlahnya berkurang,bahkan tidak ada imago yang masih hidup setelah satu minggu.
Gejala serangan hama bongkeng terdapat lubang-lubang kecil bekas gerekan yang tertutup oleh kotoran berwarna hijau dan berbau menyengat. (Rahmat,1997)
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengamatan, tanaman ubi jalar yang digunakan sebagai bahan praktikum merupakan tanaman dengan varietas tahan,sebab,setelah melakukan percobaan selama satu minggu, tanaman tersebut tetap utuh dan sehat, serta tidak tampak gejala-gejala serangan, dan juga jumlah imago hama yang dimasukkan ke dalam kotak preferensi menjadi nol.
5.2 Saran
a. Sesekali praktikum langsung di alam, sehingga paham bagaimanan cara
pengaplikasiannya pada keadaan yang sebenarnya.
b. Pengembalian laporan mohon jangan lama-lama, sehingga bila revisi tidak menumpuk dan cepat diketahui kesalahan dalam pembuatan laporan agar pada laporan berikutnya tidak terjadi kesalahan yang sama.
Daftar Pustaka
Ramadhani, Sylvia Rahmawati. 2011. Pengendalian dengan Varietas Tahan.
http://depeteqt.blogspot.com/ Di akses 27 November 2011
Rukmana, Rahmat, Ir. H.1997. UBI JALAR, Budi Daya Dan Pascapanen.
Kanisius : Bandung
Samsudin,Ir. H. 2011. Varietas tanaman tahan. http://www.pertaniansehat.or.id/index.php?pilih=news&mod=yes&aksi=lihat&id=75 Di akses 27 November 2011
Tuhfah,Riecha. 2011. Penggunaan Varietas Tahan. http://riecha-aryani.blogspot.com/2011/02/penggunaan-varietas-tahan.html Di akses 27 November 2011

Hama Bongkeng : merupakan hama ubijalar yang dominant menyerang, baik masih dalam bentuk tanaman maupun pada umbi yang yang sudah dipanen. Penyebabnya adalah kumbang kecil dengan bentuk kepala panjang dan berwarna hitam, sayap biru dan bagian tubuh lainnya merah jingga. Telur-telur kumbang diletakkan diumbi kemudian menetas dan menembus umbi dan akhirnya bongkeng dan berlubang kecil. Hama ini sulit diberantas, untuk pencegahan preventif dengan pembumbunan yang baiuk serta menanam varietas yang berkulit umbi tebal dan bergetah banyak. Sebaiknya pada suatu tempat tidak ditanami ubijalar terus menerus untuk memutus siklus hidup hama bongkeng. Hama bongkeng ini banyak menyerang umbijalar pada musim kemarau.

Kelebihan dan Kekurangan Penggunaan Varietas Tahan
Sebagai komponen PHT beberapa kelebihan penggunaan varietas tahan hama adalah:
1. Penggunaan praktis dan secara ekonomi menguntungkan
2. Sasaran pengendalian yang spesifik
3. Evektifitas pengendalian bersifat komulatif dan persisten
4. Kompatibilitas dengan komponen PHT lainnya
5. Dampak negative terhadap lingkungan terbatas
Disamping keuntungan-keuntungan tersebut diatas teknik pengendalian ini juga memiliki beberapa keterbatasan atau permasalahan yang perlu kita ketahui antara lain:
1. Waktu dan biaya pengembangan yang besar
2. Keterbatasan sumber ketahanan
3. Timbulnya biotipe hama
4. Sifat ketahanan yang berlawanan

ubi jalar kuning
UBI jalar ungu yang bernama latin Ipomoea batatas adalah salah satu kekayaan pangan Indonesia yang kaya antioksidan. Senyawa ini bermanfaat bagi tubuh untuk meningkatkan daya tahan dan menghambat penyakit degeneratif, seperti jantung koroner, arteriosclerosis, kanker, serta gejala penuaan dini. Keunggulan ubi jalar ini adalah kandungan antosianinnya yang tinggi. Hasil penelitian Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan Balitbang Pertanian, menunjukkan, antosianin bermanfaat karena dapat berfungsi sebagai antioksidan, antihipertensi dan pencegah gangguan fungsi hati. Tergelitik manfaat antioksidan bagi kesehatan tubuh, sekelompok mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Yogyakarta (F-MIPA UNY) membuat sirup berbahan ubi jalar. Mahasiswa Prodi Kimia F-MIPA UNY itu adalah Nenny Widiani, Ari Purnomo dan Tunjung Asri Ning Tyas. Saat ditemui KR, belum lama ini, Nenny Widiani mengatakan, ubi jalar unggu kaya karbohidrat, vitamin dan serat pangan alami. Namun, sampai saat ini belum dimanfaatkan optimal. Bahkan, sangat bermanfaat bagi tubuh dan pengobatan herbal, seperti membantu menghambat penyakit degeneratif. Masalah-masalah penyakit degeneratif ini berkaitan erat dengan kemampuan antioksidan untuk bekerja sebagai inhibitor atau penghambat reaksi oksidasi radikal bebas reaktif yang berada di sekitar kehidupan manusia, yang menjadi salah satu pencetus penyakit degeneratif itu. Apalagi fungsi antioksidan sebagai upaya memperkecil proses oksidasi dari lemak * Bersambung hal 7 kol 6 dan minyak, memperkecil proses kerusakan dalam makanan, memperpanjang masa pemakaian dalam industri makanan, meningkatkan stabilitas lemak yang terkandung dalam makanan, serta mencegah hilangnya kualitas nutrisi. Antioksidan terbagi menjadi enzim dan vitamin. Antioksidan enzim meliputi superoksida dismutase (SOD), katalase dan glutation peroksidase (GSH.Prx). Antioksidan vitamin mencakup alfa tokoferol (vitamin E), betakaroten dan asam askorbat (vitamin C) yang banyak didapatkan dari tanaman dan hewan. Sebagai antioksidan, betakaroten adalah sumber utama vitamin A yang sebagian besar terdapat pada tumbuhan. Selain melindungi buah-buahan dan sayuran berwarna kuning atau hijau gelap dari bahaya radiasi matahari, betakaroten juga berperan serupa dalam tubuh manusia. ”Dengan memanfaatkan ubi jalar, berarti meningkatkan nilai jual bahan pangan ini.” ujar Nenny Widiani. Apalagi, cara membuat sirup ubi jalar ungu juga tidaklah sulit. Kupas kulit luar ubi dengan pisau, cuci bersih ubi dengan air. Lalu kukus ubi jalar ungu menggunakan panci atau soblok sampai masak. Setelah dingin, ubi jalar diblender dengan menambahkan air secukupnya. Setelah itu, ubi jalar yang sudah diblender disaring dengan kain saring untuk mendapatkan fitratnya. Masak larutan ubi jalar ungu tersebut di panci dengan menambahkan gula pasir 1 : 1 dengan larutan ubi sampai 30 menit mendidih. Masukkan sirup yang sudah dingin ke dalam botol. (Asa)-a KR-Agus Suwarto 1. Mahasiswa peneliti F-MIPA UNY dengan sirup ubi jalar ungu. 2. Ubi jalar ungu.

laporan praktikum perlindungan tanaman mengenal penyakit tanaman

I.PENDAHULUAN
I.I.Latar.Belakang
Masalah penyakit tumbuhan akan selalu muncul sepanjang manusia mengusahakan tanaman atau tumbuhan tersebut sebagai tanaman budidaya, dibidang kehutanan khususnya di Indonesia hal ini mulai menjadi bahan pemikiran disaat mulai diusahakannya jenis-jenis tanaman hutan secara monokultur, seperti jati, agathis, pinus, mahoni, sengon, acacia, eucalyptus. Kondisi ini semakin menjadi persoalan jika kerusakan-kerusakan yang terjadi menimbulkan kerugian ekonomi. Kerugian ekonomi dalam jumlah yang besar akibat keruaskan yang disebabkan oleh penyakit secara umum jarang terjadi meskipun pernah ada, dan sebenarnya kerusakan hutan yang menimbulkan kerugian ekonomi dalam jumlah yang besar adalah akibat dari ulah manusia, yaitu seperti terjadinya kebakaran dan penebangan liar. Meskipun demikian kejadian suatu penyakit adalah salah satu proses yang terjadi di alam, sehingga sangat perlu menjadi bahan pemikiran pada saat mengembangkan suatu tanaman dimana manusia berperan didalamnya.

Patogen adalah organism penyebab penyakit tanaman. Patogen (pathos = menderita + gen = asal-usul) merupakan agen yang menyebabkan penderitaan (sakit).
Pada waktu sekarang telah dikenal banyak macam patogen tumbuhan dan tidak sedikit diantaranya yang mempunyai arti ekonomi penting. Setiap macam tanaman dapat diserang oleh banyak macam patogen tumbuhan, begitu pula satu macam patogen ada kemungkinan dapat menyerang sampai berpuluh-puluh tanaman. Sering pula terjadi, bahwa patogen tumbuhan tertentu dapat menyerang satu macam organ tanaman atau ada pula yang menyerang berbagai macam organ tanaman. Kenyataan ini akan menyulitkan dalam mempelajari penyakit pada tanaman. Untuk mengatasi kesulitan tersebut, maka diadakan klasifikasi penyakit tumbuhan sehingga memudahkan kita untuk mempelajari penyakit tumbuhan menurut kepentingannya masing-masing. sampai sekarang kita telah mengenal berbagai kretaria yang digunakan untuk maksud tersebut. Dengan demikian klasifikasinya dapat digolongkan berdasarkan antara lain:
 Bagian-bagian tanaman yang terserang seperti penyakit akar penyakit buah penyakit batang, penyakit daun dan sebagainya
 Macamnya tanaman yang terserang seperti penyakit tanaman pangan, penyakit tanaman sayuran, penyakit tanaman bunga bungaan, penyakit tanaman hutan dan sebagainya.
 Tanda penyakit dan gejala penyakit yang disebabkannya seperti penyakit karat, gosong, luka api tepung, layu, bercak coklat, busuk buah dan sebagainya
 Penyebaran patogen tumbuhan sebelum mengadakan infeksi di lapangan seperti penyakit yang ditularkan oleh tanah, air, serangga, biji dan sebagainya.
 Macamnya penyebab penyakit.Yang akan dipakai dalam diktat ini ialah klasifikasi yang ke-4. Jika diadakan penggolongan berdasarkan penyebab penyakit, maka penggolongan selanjutnya adalah sebagai berikut:
 Penyakit yang menular yang disebabkan oleh cendawan, bakteri, virus, mikoplasma dan sebagainya.Penyakit yang tidak menular yang disebabkan oleh kekurangan atau kelebihan zat hara tertentu, keracunan unsur kimia tertentu, kekurangan atau kelebihan air dalam tanah, kekurangan 02, C02 , cahaya, polusi udara atau air, pH tanah dan sebagainya.(http://ardian88.blogspot.com/2009/09/gejala-penyakit-tanaman.html)

Parasit
Tumbuhan parasit adalah tumbuhan yang untuk kelangsungan hidupnya menggantungkan sebagian atau seluruh sumber energinya pada tumbuhan lain (disebut tumbuhan inang) dan mengakibatkan inangnya mengalami kekurangan energi (lihat artikel simbiosis). Dalam pengertian ini tidak termasuk persaingan antarorganisme, maupun pemangsaan yang dilakukan oleh beberapa tumbuhan insektivora. (http://ardian88.blogspot.com/2009/09/gejala-penyakit-tanaman.htm2)
Tumbuhan parasit yang menggantungkan sebagian sumber energi pada tumbuhan inang disebut parasit fakultatif dan tumbuhan yang sepenuhnya menggantungkan sumber energi pada tumbuhan inang disebut sebagai parasit obligat (parasit sejati). Parasit fakultatif masih memiliki organ fotosintetik yang berfungsi secara normal sebagaimana tumbuhan bukan parasit. Contoh kelompok pertama ini misalnya mistletoe. Contoh kelompok kedua (parasit sejati) adalah tali putri (Cuscuta), benalu, dan padma (Rafflesia).
(http://ardian88.blogspot.com/2009/09/
Jamur
Jamur merupakan tumbuhan yang tidak mempunyai klorofil sehingga bersifat heterotrof, tipe sel: sel eukarotik. Jamur ada yang uniseluler dan multiseluler. Tubuhnya terdiri dari benang-benang yang disebut hifa, hifa dapat membentuk anyaman bercabang-cabang yang disebut miselium. Reproduksi jamur, ada yang dengan cara vegetatif ada pula dengan cara generatif.
Jamur dibagi menjadi 6 divisi :

1 Myxomycotina (Jamur lendir)
• Myxomycotina merupakan jamur yang paling sederhana.
• Mempunyai 2 fase hidup, yaitu
• fase vegetatif (fase lendir) yang dapat bergerak seperti amuba, disebut plasmodium
• fase tubuh buah
• Reproduksi : secara vegetatif dengan spora, yaitu spora kembara yang disebut myxoflagelata.
2 Oomycotina
• Tubuhnya terdiri atas benang/hifa tidak bersekat, bercabang-cabang dan mengandung banyak inti.

• Reproduksi:
• Vegetatif : yang hidup di air dengan zoospora yang hidup di darat dengan sporangium dan konidia

– Generatif : bersatunya gamet jantan dan betina membentuk oospora yang selanjutnya tumbuh menjadi individu baru.

3 Zygomycotina
• Tubuh multiseluler.
• Habitat umumnya di darat sebagai saprofit.
• Hifa tidak bersekat.
• Reproduksi:
• Vegetatif: dengan spora.
• Generatif: dengan konyugasi hifa (+) dengan hlifa (-) akan menghasilkan zigospora yang nantinya akan tumbuh menjadi individu baru.
4 Ascomycotina
 Tubuh ada yang uniseluler dan ada yang multi se lul er.
 Ascomycotina, multiseluler, hifanya bersekat dan berinti banyak.
 Hidupnya: ada yang parasit, saprofit, ada yang bersimbiosis dengan ganggang membentuk Lichenes (Lumut kerak).
 Reproduksi:
• Vegetatif : pada jamur uniseluler membentuk tunas-tunas, pada yang multiseluler membentuk spora dari konidia.
• Generatif: Membentuk askus yang menghasilkan askospora.
5 Basidiomycotina
• Ciri khasnya alat repoduksi generatifnya berupa basidium sebagai badan penghasil spora.
• Kebanyalcan anggota spesies berukuran makroskopik.

6. Deuteromycotin
Nama lainnya Fungi Imperfecti (jamur tidak sempurna) dinamakan demikian karena pada jamur ini belum diketahui dengan pasti cara pembiakan secara generatif.
MIKORHIZA
Mikorhiza adalah simbiosis antara jamur dengan tumbuhan tingkat tinggi, jamur yang dari Divisio Zygomycotina, Ascomycotina dan Basidiomycotina.
LICHENES
Likenes adalah simbiosis antara ganggang dengan jamur, ganggangnya berasal dari ganggang hijau atau ganggang biru, jamurnya berasal dari Ascomycotina atau Basidiomycotina. Likenes tergolong tumbuhan pionir/vegetasi perintis karena mampu hidup di tempat-tempat yang ekstrim.
(http://ardian88.blogspot.com/2009/09/gejala-penyakit-tanaman.html)

Bakteri
Bakteri merupakan organisme yang paling banyak jumlahnya dan lebih tersebar luas dibandingkan mahluk hidup yang lain . Bakteri memiliki ratusan ribu spesies yang hidup di darat hingga lautan dan pada tempat-tempat yang ekstrim. Bakteri ada yang menguntungkan tetapi ada pula yang merugikan. Bakteri memiliki ciri-ciri yang membedakannya dengan mahluk hidup yang lain. Bakteri adalah organisme uniselluler dan prokariot serta umumnya tidak memiliki klorofil dan berukuran renik (mikroskopis). (http://ardian88.blogspot.com/2009/09/gejala-penyakit-tanaman.html)
Bakteri dibagi menjadi 2 subkingdom, yaitu Arkhaebakteria dan Eubakteria. Perbedaan antara subkingdom arhaebakteria dan eubakteria adalah komposisi RNA ribosomnya. Subkingdom eubakteria adalah seluruh anggota bakteri selai arkhaebakteria. Eubhakteria ini sering dianggap sebagai bakteri yang sesungguhnya. (http://ardian88.blogspot.com/2009/09/gejala-penyakit-tanaman.html)
Bakteri bereproduksi secara vegetative/aseksual dengan membelah diri secara biner.
Ada tiga proses para seksual yang telah diketahui , yaitu transformasi , konjugasi dan transduksi.
Bentuk bakteri sangat bervariasi, tetapi secara umum ada 3 tipe, yaitu :
 Bentuk batang / silindris.
 Bentuk bulat / kokus
 . Bentuk spiral / spirilium.
Virus
Ilmu tentang Virus disebut Virologi. Virus (bahasa latin) = racun. Hampir semua virus dapat menimbulkan penyakit pada organisme lain. Saat ini virus adalah mahluk yang berukuran paling kecil. Virus hanya dapat dilihat dengan mikroskop elektron dan lolos dari saringan bakteri (bakteri filter). Virus merupakan kesatuan ultramikroskopik yang terdiri dari satu atau dua bentuk asam nukleat yang dibungkus oleh senyawa protein kompleks (coat protein atau kapsid).
Gejala penyakit yang disebabkan oleh virus sangat bervariasi. Ada virus yang laten tanpa menimbulkan gejala, ada virus yang dapat menimbulkan gejala ke seluruh tubuh tanaman, mulai dari tidak berat sampai sangat berat. Virus tumbuhan biasanya disebarkan oleh serangga vektor golongan Aphid, leaf hoppers, Trips, tungau, lalat putih atau karena pembuatan okulasi, penyambungan atau oleh adanya kontak antara tanaman sakit dengan tanaman sehat.

Cara pencegahan penyakit karena virus dilakukan dengan tindakan vaksinasi. Vaksin pertama yang ditemukan oleh manusia adalah vaksin cacar, ditemukan oleh Edward Jenner (1789), sedangkan vaksinasi oral ditemukan oleh Jonas Salk (1952) dalam menanggulangi penyebab polio. Manusia secara alamiah dapat membuat zat anti virus di dalam tubuhnya, yang disebut Interferon, meskipun demikian manusia masih dapat sakit karena infeksi virus, karena kecepatan replikasi virus tidak dapat diimbangi oleh kecepatan sintesis interferon.(blogspot)
1.2 Tujuan Praktikum
a. Agar mahsiswa dapat mengenal dan membedakan gejala penyakit tanaman
b. Agar mahsiswa mengenal penyebab penyakit yang disebabkan penyakit berdasarkan gejala dan tanda yang diamati khususnya disebabkan oleh cendawan,bakteri,virus.

II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Penyakit tumbuhan dan konsep timbulnya penyakit

Penyakit sebenarnya adalah suatu proses dimana bagian-bagian tertentu dari organisme tidak dapat menjalankan fungsinya secara normal dengan sebaik-baiknya karena adanya suatu gangguan. Tanaman dapat dilihat dari dua sudut pandang, yaitu secara biologi dan ekonomi maka penyakit tanamanpun mengandung unsur dua sudut pandang ini. Dari segi biologi, tanaman adalah organisme yang melakukan kegiatan fisiologis, sehingga dari segi ini penyakit tanaman adalah penyimpangan dari sifat normal sehingga tanaman tidak dapat melakukan kegiatan fisiologis seperti biasanya. Rangkaian proses fisiologi itu dapat berupa: (1) pembentukan cadangan makanan bahan dalam bentuk biji (busuk biji), akar dan tunas, (2) pertumbuhan juvenile baik pada semai maupun perkembangan tunas (penyakit layu pucuk dan daun), (3) perpanjangan akar dalam usaha untuk mendapatkan air dan mineral (busuk akar), (4) transportasi air(layu vaskuler), (5) fotosintesis (klorosis, bercak daun), (6) translokasi fotosintat untuk dimanfaatkan oleh sel (kanker) dan (7) integritas structural (busuk gubal, busuk pangkal batang). Dengan terganggunya proses fisiologis ini tanaman memberikan respons dalam bentuk gejala. Adapungejala yang dimunculkan sebagai respons tergangunya proses fisiologis adalah sebagai berikut :

A. Gejala Utama (Main Symptoms)
• Pertumbuhan yang tidak normal, dapat melebihi ukuran normal atau lebih kecil dari ukuran normal
• Perubahan warna, baik pada daun, batang, akar, buah, bunga.
• Matinya jaringan, bagian-bagian tanaman menjadi mengering
• Layunya bagian dari tubuh tanaman
B. Gejala Lapangan (Field Symptoms)
• Layunya tanaman secara keseluruhan
• Nekrosis (matinya jaringan)
• Perforasi (berlubang)-nya daun
• Gall (bengkak) atau bintil dan bisul
• Bercak daun
• Busuk basah, berair dan busuknya jaringan
• Busuk kering, busuknya jaringan tetapi kering
• Malformation (perubahan bentuk)
• Oedeem, batang mengalami pembengkakan
• Mummifikasi, kondisi seperti mumi, rapuh dan kering
• Daun mengeriting atau bergelombang
• Erinose, keluarnya cairan dari kulit batang
• Hexeem bezem, cabang-cabang tak berkembang dan pendek seperti sapu
• Kerdil
Dari segi ekonomi, tanaman adalah penghasil bahan-bahan yang berguna bagi manusia, sehingga dari segi ini penyakit tanaman adalah ketidakmampuanmenghasilkan bahan yang dibutuhkan manusia sehingga manusia mengalami kerugian. Dari uraian diatas, tanaman/pohon yang sakit dapat didefinisikan sebagai tanaman/pohon yang mengalami gangguan fisiologis yang disebabkan oleh penyebab penyakit yaitu pathogen yang kemudian gangguan ini dimunculkan dalam bentuk gejala dan dimana kejadian ini secara ekonomis merugikan manusia. Dan kemudian yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana tanaman itu menjadi sakit? Hal inilah yang akan dibahas dalam makalah ini yaitu konsep bagaiamana tanaman dapat menjadi sakit.
2.2. Gejala penyakit tumbuhan
Timbulnya gejala penyakit disebabkan karena adanya interaksi antara tanaman inang dan petogen. Penanaman gejala fenyakit dapat didasarkan kepada tanda penyakit, perubahan bentuk, tanaman, pertumbuhan tanaman dan sebagainya.
Penamaan gejala penyakit didasarkan kepada bentuk patogen yang terlihat pada bagian tanaman yang diserangnya
Parasit yang menyebabkan penyakit pada tanaman pada umumnya membentuk bagian vegetatifnya di dalam jaringan tanaman sehingga tidak tampak dari luar. Tetapi walaupun demikian ia membentuk bagian reproduktifnya pada permukaan tanaman yang diserangnya atau hanya sebagian tampak pada permukaan tersebut. Selan itu sering pula pembentukan propagul dalam bentuk istirahat pada permukaan tanaman. (http://www.geocities.ws/bpurnomo51/das_files/das2.pdf)
Pada beberapa kasus hampir seluruh bagian dari parasit termasuk, propagul vegetatif dan generatif terdapat pada bagian luar tanaman sehingga dapat dilihat.
Dalam hubungan ini untuk penamaan penyakit dapat didasarkan pada struktur patogen yang terlihat:
1. Mildew : merupakan penyakit tanaman dimana patogen terlihat sebagai pertumbuhan pada permukaan luar dari bagian tanaman yang terserang. Biasanya tampak dalam bentuk yang berwarna keputih-putihan pada daun, cabang atau buahnya.
 Downy Mildew : merupakan pertumbuhan yang ditandai dengan lapisan seperti bulu-bulu kapas.
 Powdery Mildew: merupakan bentuk yang terdapat pada permukaan tanaman yang tampak sebagai lapisan pupur.
2. Karat : Gejala pada permukaan tanaman seperti karat. Hal ini karena adanya kumpulan spora yang keluar dari stomata dengan warna seperti karat (merah kecoklat-coklatan).
3. Smut (Gosong): Gejala ini menyerupai tepung berwarna kehitam-hitaman dan terdapat pada organ perbungaan, batang, daun dan sebagainya.
4. Kudis: Patogen (tubuh buah) yang muncul pada permukaan bagian yang terserang berbentuk agak kasar seperti kudis.
5. Cacar : Bagian tanaman biasanya daun muda yang terserang mengelupuh (seperti cacar) dan pada bagian yang menonjol terbentuk lapisaan tubuh buah.
6. Bercak ter (Tarspot) : Bagian yarig terserang agak menonjol dan berwarna hitatr. Bagian yang hitam tersebut terdiri dari tubuh buah cendawan.
Penamaan gejala yang didasarkan kepada akibat yang ditimbulkan oleh patogen tumbuhan atau perubahan yang terjadi pada tanaman
Sebagai akibat terganggunya pertumbuhan tanaman oleh penyakit, maka akan terjadi perubahan pada tanaman dalam: Bentuk, ukuran, warna, teksture dan lain-lain.
Perubahan tersebut seringkali merupakan gejala yang khas untuk penyakit tertentu. Tetapi adakalanya untuk satu macam penyakit menimbulkan lebih dari satu macam perubahan. Sering kali patogen penyebab penyakit tersebut dapat diketemukan pada jaringan yang terserang (internal) atau pada bagian permukan jaringan (eksternal) dalam bentuk tubuh buah, sclerotium dan sebagainya.(Agrios,G.N.1996)
Perubahan dalam warna.
Seringkali warna hijau pada bagian tanaman yang terserang berubah menjadi warna kuning. Perubahan tesebut dapat terjadi oleh berbagai berikut sebab :
• Etiolasi. Akibat kekurangan cahaya atau terlalu lama tumbuh di tempat gelap.
• Khlorosis. Akibat temperatur rendah, kekurangan Fe, terserang virus, gangguan oleh cendawan, bakteri dan sebagainya.
• Khorornosis. Warna hijau dirubah oleh zat yang memberi warna, merah jingga dan sebagainya.
• Albino. Tanaman gagal membentuk zat warna.
Pertumbuhan yang berlebihan (hipertrofi)
Terjadi pembesaran secara abnormal dalarn ukuran dari organ tanaman. Hal ini terjadi karena adanya perangsangan terhadap jaringan tanaman untuk tumbuh secara berlebihan.Pembesaran organ tanaman ini dapat terjadi karena hiperflasia atau hipertrofi atau karena keduanya yang terjadi sekaligus.Hiperflasia: pembesaran dalam ukuran secara abnormal karena bertambah dalam jumlah sel. Hipertrofi: pernbesaran karena pertambahan besar dalam ukuran sel.Pertambahan besar keadaan ini dapat terjadi dalam berbagai bentuk yang disebabkan oleh berbagai penyakit:
• Puru (galls). Salah bentuk (malformation) dengan bentuk yang agak bulat seperti Crown gall, alcar gada, bintil akar dan sebagainya.
• Keriting (curl). Bentuk ini terjadi karena ada pertumbuhan yang lebih cepat pada salah satu bagian dari organ tanaman (antara lain daun).
• Sapu (witches broom). Sejumlah percabangan timbul dari bagian tertentu sehingga merupakan berkas yang menyerupai sapu.
• Akar berambut (hairy root). Sejumlah akar halus yang dibentuk secara abnormal.
• Intumescence. Pembengkakan yang menyerupai kudis yang terdiri dari parankhima.
Atrofi, hipoplasia atau kerdil.
Terjadinya kekerdilan ini sebagai akibat adanya penghambatan daIam pertumbuhan. Seluruh tanaman atau hanya terbatas pada bagian tertentu saja dapat menunjukkan gejala kerdil.
Nekrosis.
Keadaan dimana sel tanaman atau ogran tanaman mati sebagai akibat adanya aktivitas patogen.
Terdapat berbagai bentuk gejala nekrotik yang disebabkan oleh berbagai patogen yang berbeda pada bagian tanaman yang, diserangnya:
1. Bercak. Sel-sel yang rnati hanya terjadi pada luasan terbatas dan biasanya bewarna kecoklat-coklatan. Sebelum terjadi di kematian sel warnanya agak kekuning-kuningan. Bagian jaringan yang mati seringkali sobek dan terpisah dari jaringan yang ada sekitarnya yang. masih sehat. Gejala tersebut disebut shot-hole atau tembus peluru. Bentuk, lesio dari bercak ini dapat bundar, segi empat bersudut, atau tidak teratur. Sisi bercak berwarna jingga, coklat, dan sebagainya seringkali pada bercak tersebut terlihat adanya tubuh buah.
2. Streak dan shipe. bagian yang nekrotik memanjang masing-masing sepanjang tulang daun dan di antara tulang daun
3. Kanker. Terjadi kematian sel kulit batang terutama pada tanaman berkayu. Permukaan bercaknya agak tertekan kebawah atau bagian kulitnya pecah sehingga terlibat bagian kayunya. Pada bagian yang pecah tersebut dapat terlihat adanya tubuh buah cendawan.
4. Blight. Menyerupai bentuk yang terbakar. Gejala ini terjadi jika sel-sel organ tanaman mati secara cepat (daun, bunga, ranting dan sebagainya). Bagian tanaman tersebut menjadi coklat atau hitam.
5. Damping – off (lodoh). Keadaan di mana batang tanaman diserang permukaan tanah. Bagian tanaman yang terserang disekitar permukaan tanah tertekan sehingea tidak mampu untuk menahan beban yang berat dari bagian atas tanaman.
6. Terbakar, scald atau scorch. Bagian tanaman yang sukulen mati atau berwarna coklat akibat temperatur tinggi.
7. Busuk. Bagian yang terserang mati, terurai dan berwarna coklat. Hal ini disebabkan oleh serangan cendawan dan bakteri yang menguraikan ikatan antara dinding sel oleh berbagai enzym. Tergantung dari bagian tanaman yang, terserang maka terdapat berbagai gejala busuk seperti busuk akar, busuk batang, busuk- pucuk, busuk buah. Tergantung pada tipe pembusukan maka terdapat busuk basah, busuk lunak, busuk kering.
8. L a y u. Efek dari gejala layu ini daunnya kehilangan ketegarannya dan layu. Gejala ini diakibatkan oleh kerusakan bagian perakaran, penyumbatan saluran air atau oleh senyawa yang beracun yang dikeluarkan oleh patogen yang terbawa oleh aliran air kebagian atas tanaman.
9. Die-back. Terjadi kematian ranting atau cabang dari bagian ujung atasnya dan meluas kebagian sebelah bawahnya.
10. Gugur daun, bunga, buah sebelum waktunya. Hal ini disebabkan oleh gangguan fisiologi atau sebagai akibat tidak langsung oleh gangguan patogen.
11. Perubahan organ tanaman (transportasi) dari organ tanaman jadi bentuk lain. Bagian tanaman diganti oleh struktur cendawan, seperti bunga yang baru terbuka mengandung kumpulan. spora (smut) atau perbungaan yang seharusnya dibentuk dirubah menjadi bentuk daun (filodi).

2.3. Penggolongan penyakit tumbuhan dan pathogen
Penyakit abiotik
Penyakit abiotik merupakan penyakit tanaman yang disebabkan oleh penyebab penyakit noninfeksius atau tidak dapat ditularkan dari satu tanaman ke tanaman lain, sehingga penyakit abiotik juga disebut penyakit noninfeksius. Agen penyebab penyakit abiotik dapat dikelompokan menjadi banyak kelompok, 10 diantaranya akan disampaikan dalam tulisan ini.
1. Suhu (temperatur) tinggi dan sinar matahari. Beberapa tanaman tertentu daapat mengalami kerusakan dengan adanya suhu yang terlalu tinggi disertai dengan sinar matahari terik. Daun-daun muda tanaman terutama tanaman semusim dapat mengalami kelayuan permanen dan akhirnya mati. Warna daun berubah menjadi coklat kemerahan. Gejala kerusakan inidisebut sun-scald. Kerusakan tanaman oleh suhu tinggi dan sinar matahari yang terik ini dapat meningkat oleh keadaan kelembaban yang terlalu rendah. Kerusakan yang disebabkan oleh sinar matahari langsung pada suatu area biasanya relatif kecil dan pada tanaman-tanaman pertanian biasanya kerusakannya juga sulit dibedakan dengan kerusakan yang disebabkan oleh penyebab penyakit lain. Kerusakan ini biasanya dijumpai pada tanaman-tanaman yang banyak mengandung air, seperti : tomat, kentang, tembakau, dan tanaman-tanaman Cruciferae.
2. Suhu (temperatur) rendah. Suhu rendah terutama akan menimbulkan kerusakan pada buah dan sayuran. Kerusakan yang terjadi disebabkan karena terbentuknya kristal-kristal es intraseluler atau interseluler maupun keduanya. Selain itu suhu yang rendah dapat menimbulkan lapisan frost pada tanah sehingga menghalangi akar untuk menyerap air yang diperlukan untuk mengimbangi transpirasi yang dilakukan oleh daun.
3. Oksigen yang tidak sesuai. Blackheart pada kentang merupakan salah satu contoh penyakit yang umum dijumpai karena kurangnya oksigen selama masa penyimpanan kentang di gudang-gudang penyimpanan. Gejala penyakit ini berupa nekrotis pada umbi, mula-mula berwarna kemerahan kemudian coklat kemerahan, coklat, coklat tua dan akhirnya jaringan umbi berwarna hitam. Untuk memperkecil respirasi maka sebaiknya umbi disimpan dalam ruangan yang bersuhu rendah (36–40oF). Penyimpanan dalam ruangan bersuhu rendah ini dapat mengurangi penggunaan oksigen dan cara ini juga dapat menghambat perkembangan bakteri dan jamur pasca panen.
4. Kelembaban tanah yang tidak sesuai. Keadaan tanah dengan kelembaban yang sangat rendah dapat menimbulkan kelayuan permanen pada tanaman dan menyebabkan kematian tanaman tersebut. Sebaliknya kelembaban tanah yang terlalu tinggi akan menyebabkan terjadinya pembusukan akar dan bagian-bagian tanaman lain yang berada di dalam tanah, sehingga juga aakan menyebabkan kematian tanaman.
5. Hujan es dan angin. Kerusakan tanaman yang disebabkan oleh hujan es tergantung pada jenis tanaman, tingkat pertumbuhan tanaman, ukuran hujan es, dan keadaan cuaca yang mengikuti hujan es tersebut. Kerusakan dapat berupa lubang-lubang kecil sampai sobekan pada daun, sehingga terjadi pengguguran daun dan hancurnya tanaman yang bersangkutan. Angin kencang dan hujan disertai angin kencang menimbulkan beberapa bentuk kerusakan pada tanaman. Daun-daun tanaman dapat sobek, tercabik-cabik dan basah, sehingga akan memudahkan terjadinya serangan bakteri atau jamur. Angin yang sangat kencang dapat merobohkan tanaman, sehingga terjadi kerusakan fisik dan memungkinkan terjadinya pembusukan.
6. Keracunan mineral. Tanaman mempunyai tanggapan (respon) yang berlainan terhadap keasaman tanah. Tanah yang bersifat asam dapat meracuni beberapa jenis tanaman tertentu. Tanaman-tanaman yang mengalami keracunan akan menunjukan gejala yang bervariasi dari perubahan warna (klorosis), layu, bercak, penebalan daun, kerdil sampai mati.
7. Defisiensi (kekurangan) mineral. Defisiensi mineral pada jenis tanaman yang berlainan kemungkinan akan menunjukan gejala yang sama, akan tetapi sulit untuk menentukan secara tepat mineral apa yang mengalami defisiensi. Ada 13 elemen unsur mineral penting yang diperlukan tanaman, dan kekurangan salah satu atau lebih unsur-unsur tersebut dapat menimbulkan penyakit tanaman. Unsur-unsur tersebut yaitu : C, H, OS, K, P, N, B, Mn, Mg, Na, Si, Cl.
8. Senyawa kimia alamiah yang beracun. Ada jenis tumbuhan tertentu yang menghasilkan senyawa kimia yang bersifat meracun terhadap tumbuhan lain, misalnya : juglone (5-hidroksi-1,4-napthoquinone) yang dihasilkan oleh pohon walnut (black-walnut). Senyawa tersebut bersifat meracun terhadap tanaman tomat, kentang, alfalfa, apel, dan beberapa tanaman lainnya.
9. Senyawa kimia pestisida. Kerusakan tanaman yang termasuk kategori ini biasanya disebabkan oleh :

a. Pemakaian pestisida yang salah, misalnya : salah jenis pestisida, dosisnya tidak tepat, dan aplikasinya tidak sesuai.
b. Keracunan tanaman karena sisa-sisa pestisida yang menguap (fumigan)
c. Residu pestisida yang fitotoksik
10. Polutan udara yang meracun. Polutan udara yang menimbulkan kerusakan tanaman seiring dengan peningkatan jumlah industri dan pemanfaatan energi di suatu daerah.
Penyakit Biotik
Penyakit biotik merupakan penyakit tanaman yang disebabkan oleh suatu organisme infeksius bukan binatang, sehingga dapat ditularkan dari satu tanaman ke tanaman lainnya. Organisme yang dapat menyebabkan suatu penyakit tanaman disebut patogen tanaman. Patogen tanaman meliputi organisme-organisme sebagai berikut :
1. Jamur. Jamur ada yang menyebut cendawan atau fungi. Jamur merupakan mikroorganisme yang organel selnya bermembran (eukariotik), tidak mempunyai klorofil, berkembangbiak secara seksual dan atau aseksual dengan membentuk spora, tubuh vegetatif (somatik) berupa sel tunggal atau berupa benang-benang halus (hifa, miselium) yang biasanya bercabang-cabang, dinding selnya terdiri dari sellulose dan atau khitin bersama-sama dengan molekul-molekul organik kompleks lainnya. Untuk keperluan praktis dalam diagnose penyebab penyakit, jamur dibedakan berdasarkan ada tidaknya sekat pada hifa dan cara perkembangbiakannya, sehingga jamur dibedakan menjadi empat kelompok kelas, yaitu : Phycomycetes, Ascomycetes, Basidiomycetes, dan Deuteromycetes. Hifa pada kelas Phycomycetes, tidak bersekat, sedangkan hifa pada tiga kelas terakhir Ascomycetes, Basidio-mycetes, dan Deuteromycetes) hifanya bersekat. Kelas Ascomycetes mempu-nyai hifa yang bersekat berpori dan kelas Basidiomycetes mempunyai sekat dolipori, sedangkan kelas Deutero-mycetes dapat bersekat berpori maupun dolipori. Pada tiga kelas pertama (Phycomycetes, Ascomycetes, dan Basidiomycetes) perkembangbiakannya dilakukan secara seksual dan aseksual, sedangkan pada kelas Deuteromycetes merupakan jamur hifanya bersekat. Kelas Ascomycetes mempu-nyai hifa yang bersekat berpori dan kelas Basidiomycetes mempunyai sekat dolipori, sedangkan kelas Deutero-mycetes dapat bersekat berpori maupun dolipori. Pada tiga kelas pertama (Phycomycetes, Ascomycetes, dan Basidiomycetes) perkembangbiakannya dilakukan secara seksual dan aseksual, sedangkan pada kelas Deuteromycetes merupakan jamur

Gambar 1 : Perbedaan skematis sekat berpori dengan dolipori dan perbedaan hifa bersekat dan tidak bersekat

Gambar 2: Beberapa macam spora jamur dan pembentukannya
Contoh jamur Phycomycetes yang menyebabkan penyakit pada tanaman yaitu : Scleroperonospora maydis penyebab penyakit bulai pada jagung, Pythium myriotylum penyebab penyakit busuk polong kaacang tanah, Phytophthora palmivora penyebab penyakit busuk hitam pada kelapa, kelapa sawit, lada, durian, pepaya dan kanker garis batang karet, Phytophthora theobromae penyebab penyakit busuk buah kakao, Phytophthora cinnamomi penyebab penyakit kanker kayu manis, Phytophthora infestans penyebab penyakit hawar daun kentang, Phytophthora parasitica penyebab penyakit busuk batang tembakau.
Contoh jamur Ascomycetes yang menyebabkan penyakit pada tanaman yaitu : Ceratocystis fimbriata penyebab penyakit kanker pada kakao, kopi, mangga, kelapa, dan karet, Elsinoe fawcetti penyebab penyakit kudis pada jeruk, Glomerella cingulata (fase seksual Colletotrichum) penyebab penyakit antraknose pada berbagai tanaman, Mycosphaerella berkeleyii dan Mycosphaerella arachidis (fase seksual Cercospora) penyebab penyakit bercak daun kacang tanah.
Contoh jamur Basidiomycetes yang menyebabkan penyakit pada tanaman yaitu Corticium salmonicolor (Upasia salmonicolor) penyebab penyakit upas pada banyak tanaman tahunan, Exobasidium vexans penyebab penyakit cacar daun teh, Hemileia vastatrix penyebab penyakit karat daun kopi, Puccinia sorghi penyebab penyakit karat sorgum, Rigidoporus lignosus (=Fomes lignosus) penyebab penyakit akar putih pada tanaman tahunan, Ustilago scitaminea penyebab penyakit gosong pada tebu.
Contoh jamur Deuteromycetes yang menyebabkan penyakit pada tanaman yaitu : Alternaria solani penyebab penyakit bercak daun kentang, Botryiodiplodia theobromae penyebab penyakit busuk pada buah kakao, kelapa, pisang, pepaya, dan ubi jalar, Cercospora coffeicola penyebab penyakit bercak mata coklat pada kopi, Cercospora purpurea penyebab penyakit bercak blotch apokat, Cercospora nicotianae penyebab penyakit bercak mata katak pada tembakau, Colletotrichum gloeosporioides penyebab penyakit antraknose pada banyak tanaman, Fusarium oxysporum penyebab penyakit layu pada berbagai tanaman, Pyricularia oryzae penyebab penyakit hawar daun padi dan beberapa rerumputan.
2. Bakteri. Bakteri merupakan mikroorganisme prokariotik bersel tunggal. Ada kurang lebih 200 jenis bakteri yang dapat menyebabkan penyakit tanaman. Jenis-jenis bakteri ini terutama berbentuk batang dan hanya terdiri dari enam genus (marga), yaitu :
i. Agrobacterium dari famili Rhizobiaceae gram negatif
ii. Corynebacterium dari famili Corynebacteriaceae gram positif
iii. Erwinia dari famili Enterobacteriaceae gram negatif
iv. Pseudomonas dari famili Pseudomonadaceae gram negatif
v. Streptomyces dari famili gram positif
vi. Xanthomonas dari famili Pseudomonadaceae gram negatif
Agrobacterium merupakan bakteri berbentuk batang pendek, motil (dapat bergerak), flagella peritrik, menyebabkan hipertropi yang berupa gall pada akar dan batang. Hanya ada 5 jenis dari genus Agrobacterium yang merupakan patogen tanaman, dan yang paling dikenal yaitu Agrobacterium tumefaciens yang menyebabkan penyakit crown gall atau bengkak pada pangkal batang, akar, dan ranting tanaman gandum, anggur dan mawar, Agrobacterium rhizogenes penyebab penyakit akar berambut (hairy roots), dan Agrobacterium rubi penyebab penyakit bengkak pada batang, dahan, daun dan bunga tanaman oleander.(Eka,B.2011)

333

III. BAHAN DAN METODE
3.1 Tempat dan waktu
Kegaiatan Praktikum Acara 1 (Mengenala Gejala Penyakit Tumbuhan) dilakukan dengan pengambilan sampel tanaman dan bagian tanaman bergejala dari lapangan dan pengamatan dilaksanakan di Laboratorium Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Palangka Raya.Kegiatan ini dilaksanakan pada hari senin 09 april 2012 jam 15.15-17.00 WIB
3.2 Bahan dan Alat
Ada pun bahan yang digunakan adalah bagian tanaman yang bergejala(gejala nekrotik yaitu: wortel,daun mengkudu,Tomat,cabai.gejala hipoplastis yaitu:daun kacang, daun papaya, gejala heperpalstis yaitu:daun jambu agung, buah kedondong)alcohol, aquadest, kapas kertas tissue. Sedangkan alat yang digunakan adalah mikroskop, loupe, obyek glass, cover glass, jarum pentul dan silet.
3.3 Cara Kerja
Yang pertama kita amati adalah gejala penyakit dan mengambil tanaman yang terkena penyakit maupun penyakit tanaman, kemudian kita mengambil bagian yang terserang gejala tersebut, lalu meletakan bahan tersebut dipreparat tambahkan air dan menutupnya berlahan-lahan agar tidak ada gelembung udara, kemudian kita mengamati dimikroskop kemudian gambarkan dan menyebutkan ciri-ciri atau penampakan fisiologis dari gejala tersebut.
mengamati secara mikroskopis penyebab penyakit dengan berdasarkan tanda yang tampak dan gambar serta sebut bagian-bagiannya, lalu membuatlah Herbarium dengan berdasarkan gejala spesifik dari penyakit tumbuhan
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Pengamatan
Dari hasil pengamatan gejala penyakit (makroskopis dan pengamatan mikroskopis yaitu:

No
Bagian tanaman yang diamati Nama Penyakit
Tipe gejala

Gejala yang diamati

Penyebab Penyakit

1.

2.

3.

4.

5.

6

7.

8.

9.

10. Wortel

Daun jambu

Daun Kacang

Daun mengkudu

Daun Pepaya

Buah Kedondong

Cabai

Tomat

Batang sawo

Parasit Jamur

Kudis(scab)

Mozaik

Bercak daun

Rosed

Kudis

Antraknosa

Busuk Basah

Puru sawo

Bengkak batang Nekrotis

Hiperpalstis

Hipoplastis

Nekrotis

Hipoplastis

Hiperpalstis

Nekrotis

Nekrotis

Hiperplastis

Hiperplastis -Perubahan warna wortel
-Warna coklat kehitaman
-Bercak Kasar,agak menonjol.pecah-pecah

-Bercak kuning

-Bercak-bercak kuning
-Hitam kecoklatan

-Pertumbuhan ruas daunnya memendek

-Warna kecoklatan hampir kehitaman

-Terdapat bagian tanaman yang mengkerut

-Busuk
-basah
-mudah bengkak pada bagian tanaman

-terdapat bengkak menonjol pada bagian tanaman yang terdapat parasit
Jamur
(Cendawan)
Bakteri

Virus

Jamur

Virus

Jamur

Colletrottrichum

Phytoptora Sp

Agrobacterium tumafaaciens

Tumafaclens

4.2. Pembahasan
4.2.1. Antraknosa
Penyakit antraknosa atau patek pada tanaman cabai disebabkan oleh Cendawan Colletotrichum capsici Sydow dan Colletotrichum gloeosporioides Pens, penyakit antraknosa atau patek ini merupakan momok bagi para petani cabai karena bisa menghancurkan panen hingga 20-90 % terutama pada saat musim hujan, cendawan penyebab penyakit antraknosa atau patek ini berkembang dengan sangat pesat bila kelembaban udara cukup tinggi yaitu bila lebih dari 80 rH dengan suhu 32 derajat selsius biasanya gejala serangan penyakit antraknosa atau patek pada buah ditandai buah busuk berwarna kuning-coklat seperti terkena sengatan matahari diikuti oleh busuk basah yang terkadang ada jelaganya berwarna hitam. Sedangkan pada biji dapat menimbulkan kegagalan berkecambah atau bila telah menjadi kecambah dapat menimbulkan rebah kecambah. Pada tanaman dewasa dapat menimbulkan mati pucuk, infeksi lanjut ke bagian lebih bawah yaitu daun dan batang yang menimbulkan
busuk kering warna cokelat kehitam-hitaman. (Blogspot 2012)

Pengendalian Penyakit Antraknosa atau Patek:
• Melakukan prendaman biji dalam air panas (sekitar 55 derajat Celcius) selama 30 menit atau perlakuan dengan fungisida sistemik yaitu golongan triazole dan pyrimidin (0.05-0.1%) sebelum ditanam atau menggunakan agen hayati.
• Penyiraman fungisida atau agen hayati yang tepat pada umur 5 sebelum pindah tanam.
• Memusnahkan bagian tanaman yang terinfeksi, namun perlu diperhatikan saat melakukan pemusnahan, tangan yang telah menyentuh (sebaiknya diusahakan tidak menyentuh) luka pada tanaman tidak menyentuh tanaman/buah yang sehat, dan sebaiknya dilakukan menjelang pulang sehingga kita tidak terlalu banyak bersinggungan dengan tanaman/buah yang masih sehat.
• Penggiliran (rotasi) tanaman dengan tanaman lain yang bukan famili solanaceae(terong, tomat dll) atau tanaman inang lainnya misal pepaya karena berdasarkan penelitian patogen antraknosa pada pepaya dapat menyerang cabai pada pertanaman.
• Penggunaan fungisida fenarimol, triazole, klorotalonil, dll. khususnya pada periode pematangan buah dan terutama saat curah hujan cukup tinggi.. Fungisida diberikan secara bergilir untuk satu penyemprotan dengan penyemprotan berikutnya, baik yang menggunakan fungisida sistemik atau kontak atau bisa juga gabungan keduanya.
• Penggunaan mulsa hitam perak, karena dengan menggunakan mulsa hitam perak sinar matahari dapat dipantukan pada bagian bawah permukaan daun/tanaman sehingga kelembaban tidak begitu tinggi.
• Menggunakan jarak tanam yang lebar yaitu sekitar 65-70 cm (lebih baik yang 70 cm) dan ditanam secara zig-zag ini bertujuan untuk mengurangi kelembaban dan sirkulasi udara cukup lancar karena jarak antar tanaman semakin lebar, keuntungan lain buah akan tumbuh lebih besar.
• Jangan gunakan pupuk nitrogen (N) terlalu tinggi, misal pupuk Urea, Za, ataupun pupuk daun dengan kandungan N yang tinggi.
• Penyiangan / sanitasi gulma atau rumput-rumputan agar kelembaban berkurang dan tanaman semakin sehat.
• Jangan menanam cabai dekat dengan tanaman cabai yang sudah terkena lebih dahulu oleh antraknosa / patek, ataupun tanaman inang lain yang telah terinfeksi.
• Pengelolaan drainase yang baik di musim penghujan.
Agen hayati yang sering digunakan dalam pengendalian antraknosa adalah : Actinoplanes, Alcaligenes, Agrobacterium Amorphospongarium, athrobacter dll, dan ini biasanya bisa didapat di balai perlindungan tanaman Deptan. Namun perlu diperhatikan bila kita menggunakan agen hayati sebaiknya kita tidak menggunakan pestisida kimia, karena akan menyebabkan kematian pada agen hayati tersebut.((http://tohariyusuf.wordpress.com/2010/01/11/anthraknosa-atau-patek-pada-tanaman-cabai/)
4.2.2. Mozaik
Penyebab : Jamur Cercospora personata dan Cercospora arachidicola. Gejala: timbul bercak-bercak berukuran 1-5 mm, berwarna coklat dan hitam pada daun dan batang.

Gambar 7 : tanaman kacang tanah yang terserang virus mozaik

Gambar 6 : virus mozaik yang menyerang pada daun kacang tanah

Penyakit Tanaman Disebabkan Virus
Virus merupakan jasad renik yang dapat hidup di temat yang hidup (seperti organ hewan dan tumbuhan). Kali ini pembahasan tertuju pada Penyakit Tanaman Disebabkan Virus yang banyak sekali menyerang. pada dasarnya dampak yang ditimbulkan antara virus yang satu dengan virus yang lain berbeda sangat. berikut adalah uraian singkat tentang Penyakit Tanaman Disebabkan Virus :
Penyakit virus belang menyerang pada tanaman kacang tanah. Kehilangan basil akibat serangan penyakit virus belang berkisar 10 -60% tergantung dari jenis kacang tanah. Penyakit belang disebabkan oleh virus yang diidentifikasi sebagai virus Belang Kacang Tanah atau Groundnut Mottle Virus. Gejala yang sering dijumpai di lapang adalah gejala belang berwama hijau tua dikelilingi daerah yang lebih terang atau hijau kekuning-kuningan. Pada umumnya gejala awal pada daun muda terluhat adanya bintik- bintik klorotik yang selanjutnya berkembang menjadi belang-belang melingkar. a terdapat pada lembaga biji tanaman sakit.(blogspot)
Penykit ini menyerang pada padi tepatnya pada bagian daun padi. Intensitas serangan bergantung pada tingkat ketahanan varietas padi dan umur tanaman pada saat terinfeksi. Gejalanya tampak pada perubahan warna pada daun muda menjadi kuning oranye dimulai dari ujung daun, jumlah anakan berkurang, tanaman kerdil dan pertumbuhannya terhambat. Gejala penyakit tersebar mengelompok, hamparan tanaman padi terlihat seperti bergelombang karena adanya perbedaan tinggi tanaman antara tanaman sehat dan yang terinfeksi.(blogspot)
Penykit ini menyerang pada padi tepatnya pada bagian daun padi. Intensitas serangan bergantung pada tingkat ketahanan varietas padi dan umur tanaman pada saat terinfeksi. Gejalanya tampak pada perubahan warna pada daun muda menjadi kuning oranye dimulai dari ujung daun, jumlah anakan berkurang, tanaman kerdil dan pertumbuhannya terhambat. Gejala penyakit tersebar mengelompok, hamparan tanaman padi terlihat seperti bergelombang karena adanya perbedaan tinggi tanaman antara tanaman sehat dan yang terinfeksi.(blogspot)
Virus yang menyerang tanaman ini adalah virus TYMV (Turnip Yellow Mozaik Virus). Penyakit ini menyrang bagian daun tanaman lobak. Gejala yang bisa diamati adalah lobak menjadi berwarna kuning (menguning).
4.2.3. Cendawan
Cendawan entomopatogen adalah organisme heterotrof yang hidup sebagai parasit pada serangga. Cendawan entomopatogen merupakan salah satu jenis bioinsektisida yang dapat digunakan untuk mengendalikan hama tanaman.Cendawan entomopatogen termasuk dalam enam kelompok mikroorganisme yang dapat dimanfaatkan sebagai bioinsektisida, yaitu cendawan, bakteri, virus, nematoda, protozoa dan ricketsia.

Proses infeksi cendawan entomopatogen terhadap inangnya (serangga) dibagi menjadi fase parasit dan fase saprob. Penyerangan pada serangga inang dilakukan melalui penetrasi langsung pada kutikula. Pada awalnya spora cendawan melekat pada kutikula, selanjutnya spora berkecambah melakukan penetrasi terhadap kutikula dan masuk ke hemosoel. Cendawan akan bereproduksi di dalamnya dan membentuk hifa. Serangga akan mati, sedangkan cendawan akan melanjutkan siklus hidupnya dalam fase saprob. Setelah tubuh serangga inang dipenuhi oleh massa miselium, tubuh tersebut akan mengeras dan berbentuk seperti mumi yang berwarna putih, hijau, atau merah muda. Setelah itu spora akan diproduksi untuk menginfeksi inang lainnya.
4.2.4. kerdil
Penyebabnya yaitu diserang oleh Bakteri dengan gejala bercak-bercak kasar,terbatas dan agak menonjol,kadang agak pecah-pecah.dibagian tersebut terdapat sel-sel yang berubah menjadi sel-sel daun.kadang-kadang berombak dan bentuknya seperti krupuk,sehingga gejala ini disebut juga kerupuk.

V. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. Kesimpulan
Dari praktium dapat disimpulkan gejala penyakit tumbuhan timbul akibat masuknya pathogen kedalam jaringan tumbuhan dan menyebabkan terjadinya infeksi sehingga terjadinya perubahan pada sel atau jaringan tumbuhan.
Virus dapat dipisahkan dari sel inang menjadi molekul-molekul mikroprotein dan dari keadaan murni ini virus dikatakan dalam fase pasif. Molekul mikroprotein ini benar-benar merupakan senyawa kimia, baru setelah kristal mikroprotein ini masuk ke dalam sel-sel inang yang sesuai, maka kristal mikroprotein akan kembali ke sifat-sifat menyerupai organisme, dan inilah yang disebut fase aktif. Virus tanaman yang telah dimurnikan dan telah diketahui komponen-komponen kimia penyusunnya mempunyai ciri-ciri kesamaan kimia yang sama.
Virus tersusun atas sebuah mantel pelindung yang disebut kapsid dan tersusun atas protein. Bagian inti virus yang disebut nukleokapsid tersusun atas asam nukleat. Asam nukleat virus tanaman sebagian besar berbentuk RNA (ribonucleic acid), sedangkan virus hewan dan manusia sebagian besar berbentuk DNA (dioxyribonucleic acid). Akhir-ahkir ini virus telah banyak menimbulkan kerugian ekonomi terhadap hasil-hasil pertanian.
Beberapa jenis virus mampu menyerang banyak macam tanaman inang tetapi ada pula yang hanya mempunyai satu tanaman inang spesifik. Gejala penyakit yang disebabkan oleh virus sangat bervariasi. Ada virus yang laten tanpa menimbulkan gejala, ada virus yang dapat menimbulkan gejala ke seluruh tubuh tanaman, mulai dari tidak berat sampai sangat berat. Gejala penyakit untuk satu virus penyebab dapat bervariasi dari tiga sampai enam macam gejala yang berbeda. Gejala penyakit yang disebabkan oleh virus lebih tampak pada bagian tanaman yang baru tumbuh. Virus tumbuhan biasanya disebarkan oleh serangga vektor golongan Aphid, leaf hoppers, Trips, tungau, lalat putih atau karena pembuatan okulasi, penyambungan atau oleh adanya kontak antara tanaman sakit dengan tanaman sehat. Contoh virus penyebab penyakit tanaman yaitu : virus mosaik tembakau (tobacco mosaic virus) ditularkan oleh Aphids, virus mosaik ketikun (cucumber mosaic virus) ditularkan oleh Aphids, virus pucuk keriting (curly-top virus) ditularkan oleh leaf hopper, virus layu berbercak (spotted wilt virus) disebarkan oleh thrips.
Mikoplasma dan MLO (mycoplasma like organism). Mikoplasma juga merupakan mikroorganisme prokariotik seperti bakteri yang organel-organelnya tidak bermembran. Informasi genetiknya berupa rantai DNA yang berbentuk cincin dan terdapat bebas dalam sitoplasma. Mikoplasma tidak mempunyai dinding sel dan hanya diikat oleh unit membran berupa triple-layered, mempunyai sitoplasma, ribosom, dan substansi inti yang tersebar dalam sitoplasma. Mikoplasma dapat berbentuk ovoid sampai filamen (benang) dan kadang-kadang berbentuk menyerupai hifa bercabang-cabang dan biasanya dijumpai di dalam jaringan di luar sel-sel inang. Mikoplasma like organisme (MLO) tanaman biasanya terdapat dalam cairan floem. Berbeda dengan mikoplasma, MLO dapat tumbuh pada sitoplasma sel-sel parenkhim floem. MLO sering dijumpai membentuk koloni

DAFTAR PUSTAKA
Agrios, G.N. 1996. Ilmu Penyakit Tumbuhan. Gajah Mada University.
Yogyakarta.

Eka, B. 2001. Gejala Penyakit Tumbuhan. http:ekaboymaster.blogspot.com
Diakses 12 April 2012.

(http://ardian88.blogspot.com/2009/09/gejala-penyakit-tanaman.html)

.( http://tohariyusuf.wordpress.com/2010/01/11/anthraknosa-atau-patek-pada-tanaman-cabai/)
(http://blogspot.mastercoy/2011/01/09/gajala penyakit tanaman)

ACARA PRAKTIKUM I
SUHU UDARA DAN SUHU TANAH

OLEH

NAMA : ANA MARIYANA BR SINAGA
NPM : E1B009024
HARI / TANGGAL : RABU, 03 NOVEMBER 2010
KELOMPOK : IV
CO-ASS : GATRA BAYU JAGA
NOVA SAMOSIR

JURUSAN KEHUTANAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BENGKULU
2010
PENDAHULUAN

Suhu menyatakan tingkat energi bahan rata-rata suatu benda. Ia dinyatakan dalam satuan derajat. Ada tiga macam satuan penggolongan suhu yang umum, yaitu sistim Reamur, sistem Fahreinheit, dan Celcius. Namun yang paling populer adalah yang disebut dua terakhir.
Dalam biosfer, suhu benda alami, beragam menurut tempat dan waktu yang disebabkan oleh perbedaan benda dalam menerima energi radiasi surya dan hasil pengaruh energi ini terhadap sekelilingnya. Menurut tempat ia ditentukan oleh letak menurut ketinggian dan menurut lintang di bumi. Menurut waktu ia ditentukan oleh sudut inklinasi surya.

Tujuan:
Praktikum ini bertujuan agar mahasiswa mengerti tentang sifat panas dari udara dan tanah. Mengerti tentang fluktuasi dan sebaran suhu menurut tempat dan waktu.

TINJAUAN PUSTAKA

Suhu adalah derajat panas atau dingin yang diukur berdasarkan skala tertentu dengan menggunakan termometer. Satuan suhu yang biasa digunakan adalah derajat celcius (0C). Sedangkan di Inggris dan beberapa Negara lainnya dinyatakan dalam derajat Fahrenheit (0F)
0C = 5/9 (F-32)
0F = 9/5(0C)+32
(Ir. Ance Gunarsih Kartasapoetra, 2004)
Suhu juga bisa diartikan sebagai suatu sifat fisika dari suatu benda yang menggambarkan
Energy kinetic rata-rata dari pergerakan molekul-molekul. Pada gas seperti udara, hubungan antara energy kinetik dengan suhu dapat dijabarkan sebagai berikut:
Ek= ½ m v2 = 3/2 NkT
Ek : energy kinetik rata-rata dari molekul gas
m : massa sebuah molekul
v2 : kecepatan kuadrat rata-rata dari gerakan molekul
N : jumlah molekul per satuan volume
k : tetapan Boltzman
T : suhu mutlak (K)
Di atmosfer dijumpai bahwa peningkatan panas laten akibat penguapan tidak menyebabkan kenaikan suhu udara, tetapi penguapan justru menurunkan suhu udara karena proporsi panas terasa (yang menyebabkan kenaikan suhu udara) menjadi berkurang.
( dr. Handoko, 2003, hal 37, paragraf 1-3).

A. Suhu Udara
Suhu udara dipermukaan bumi adalah relative, tergantung pada faktor-faktor yang mempengaruhinya seperti misalnya lamanya penyinaran matahari. Hal itu dapat berdampak lansung akan adanya perubahan suhu di udara.
http://atmosfer.suhu.blogspot.com
Suhu udara bervariasi menurut tempat dan dari waktu ke waktu di permukaan bumi. Menurut tempat suhu udara bervariasi secara vertical dan horizontal dan menurut waktu dari jam ke jam dalam sehari, dan menurut bulanan dalam setahun.
(Wisnubroto,S,S.S.L Aminah, dan Nitisapto,M. 1982)
Beberapa unsur yang mempengaruhi suhu secara horizontal di permukaan bumi antara lain :
1. Letak lintang suatu tempat.
Suhu udara di atmosfer bervariasi menurut letak ketinggian tempat. Hingga ketinggian tertentu. Suhu udara dapat menurun, tetapi menurut ketinggian yang lainnya meningkat. Pada lapisan Troposfer (lapisan bawah atmosfer) suhu udara menurun menurut letak ketinggian
tempat hingga ketinggian 10 km dengan gradein penurunan suhu 5,0-6,5 oC per 1000 m diatas permukaan laut. Menrunnya suhu menurut letak ketinggian tempat ini dimungkinkan karena beberapa hal antara lain :
1. Pengaruh keadaan suhu dekat permukaan bumi.
2. Pengaruh lautan
3. Pengaruh kerapatan udara
4. Pengaruh angin secara tidak langsung
5. Pengaruh panas laten
6. Penutup tanah
7. Tipe tanah
8. Pengaruh sudut datang sinar matahari

2. Pengaruh arus laut
3. Distribusi antara daratan dan lautan
Penyebaran suhu udara menurut waktu dapat dikaji dalam dua pola :
1. Pola suhu diurnal (suhu udara setiap jam selama 24 jam)
2. Pola suhu udara rata-rata harian menurut bulanan dan tahunan.
(Dasar-dasrar Klimatologi 2000)

B. Suhu Tanah
Suhu tanah merupakan hasil dari keseluruhan radiasi yang merupakan kombinasi emisi panjang gelombang dan aliran panas dalam tanah. Suhu tanah juga disebut intensitas panas
dalam tanah dengan satuan derajat celcius, derajat farenheit, derajat Kelvin dan lain-lain. (Kemala Sari Lubis, 2007).
Suhu tanah berpengaruh terhadap penyerapan air. Makin rendah suhu, makin sedikit air yang di serap oleh akar, karena itulah penurunan suhu tanah mendadak dapat menyebabkan kelayuan tanaman.
Pengukuran suhu tanah dalam klimatologi harus dihindarkan dari beberapa gangguan, baik itu gangguan likal maupun gangguan lain. Gangguan-gangguan itu adalah sebagai berikut :
a) Pengaruh radiasi matahari langsung dan pantulannya oleh benda-benda sekitar.
b) Gangguan tetesan air hujan.
c) Tiupan angin yang terlalu kuat.
d) Pengaruh local gradient suhu tanah akibat pemanasan dan pendinginan permukaan tanah setempat.(http://rocky16amelungi.wordpress.com/2009/09/14/suhu-udara-tanah/)
Data suhu berasal dari suhu rata-rata harian, bulanan, musiman dan tahunan.
1. Suhu rata-rata harian, yaitu:
Dengan menjumlahkan suhu maksimum dan minimum hari tersebut selanjutnya dibagi dua
Dengan mencatat suhu setiap jam pada hari tersebut selanjutnya dibagi 24
2. Suhu rata-rata bulanan yaitu dengan menjumlahkan rata-rata suhu harian selanjutnya dibagi 30
3. Suhu rata-rata tahunan yaitu dengan menjumlahkan suhu rata-rata bulanan yang selanjutnya dibagi 12
4. Suhu normal adalah angka suhu yang diambil dalam waktu 30 tahun
(Ir. Ance Gunarsih Kartasapoetra, 2004)
C. Termometer
Perubahan suhu merupakan proses fisik pada molekul benda. Tiap benda mempunyai kepekaan yang berbeda terhadap perubahan suhu. Berdasarkan prinsipnya thermometer dapat di golongkan dalam empat macam, yaitu :
1. Termometer berdasarkan prinsip pemuaian
2. Termometer berdasarkan arus listrik
3. Termometer berdasrkan prinsip perubahan tekanan dan volume gas
4. Termometer berdasrkan prinsip peubahan gelombang cahaya yang di pancarkan oleh suatu permukaan bersuhu tinggi. (http://rocky16amelungi.wordpress.com/2009/09/14/suhu-udara-tanah//)
D. Suhu Maksimum dan Minimum

Suhu maksimum adalah suhu tertinggi dimana tanaman masih dapat tumbuh. Suhu minimum adalah suhu terendah dimana tanaman masih dapat hidup. Dan suhu optimum adalah suhu yang dibutuhkan tanaman dimana proses pertumbuhannya dapat berjalan lancar.
Panas yang diterima oleh permukaan tanah diteruskan ke dalam lapisan tanah yang lebih dalam melalui konduksi. Panas yang dijalarkan akan memerlukan waktu. Akibatnya suhu maksimum dan minimum di dalam tanah akan mengalami keterlambatan. Makin lama pemanasan permukaan tanah maka makin dalam pula suhu permukaan akar terasa ke lapisan tanah yang lebih dalam.
Suhu maksimum di atmosfir terjadi pada sekitar jam 13.00, sedangkan suhu maksimum di dalam tanah akan terjadi setelah waktu suhu maksimum udara. Suhu maksimum tanah unyuk kedalaman 5 cm terjadi pada jam 14.00, untuk kedalaman 10 cm terjadi pada jam 15.30 dan untuk kedalaman tanah 20 cm terjadi pada jam 18.00 atau lewat.
Suhu minimum di atmosfir terjadi setelah matahari terbit yaitu sekitar jam 06.00 pagi hari sedangkan suhu minimum didalam tanah akan mengalami keterlambatan. Untuk kedalaman 5 cm suhu minimum terjadi pada jam 08.00, untuk kedalaman 10 cm terjadi pada jam 09.00 dan untuk kedalaman 20 cm terjadi pada jam 11.00.
(Bayong Tjasyono HK, 2004)

METODOLOGI

Alat dan bahan:
Termometer tanah, termometer udara (maksimum-minimum), stopwatch ponsel, pancang (kayu), mistar, alat tulis.

Cara Kerja:
A. Suhu tanah
1. Menyiapkan termometer tanah. Lalu, memilih permukaan tanah yang datar untuk menanamkan termometer tanah ke dalam tanah. Tempat yang diukur adalah di atas tanah olahan, lapangan berumput dan tanah hutan.
2. Pengamatan dilakukan dengan cara melubangi tanah dengan pancang (kayu). Lalu tanam termometer dengan titik kedalaman tanah 5 cm, 10 cm dan 15 cm. Lalu biarkan thermometer selama 3 menit.
3. Setelah 3 menit, lihat berapa suhu yang tercantum di skala thermometer dengan cara mata melihat lurus dan catat angka yang tercantum di termometer
4. Meakukan pengamatan dengan cara dan kedalaman yang sama pada tiap tempat yang telah ditentukan.

B. Suhu udara
1. Termometer udara (termometer maksimum dan minimum) digantung di dalam rumah kawat.
2. Pengamatan dilakukan satu kali sehari setiap pagi dari jam 08.00 wib sampai sebelum jam 10.00 wib.
3. Kemudian mencatat suhu maksimum dan minimum.
4. Setiap setelah pengamatan selesai, menekan tombol yang ada di tengah alat
5. Pengamatan dilakukan dengan cara yang sama selama empat hari mulai hari kamis, jumat, senin dan selasa.

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Pengamatan

1. Suhu Udara

a. Tabel
NO HARI/TANGGAL T-MAX (0C) T-MIN (0C) Trata2( 0C)
1. Kamis, 04 November 2010 31 13 9
2. Jumat, 05 November 2010 38 28 5
3. Senin, 08 November 2010 33 29 2
4. Selasa, 09 November 2010 34 27 3,5

b. Grafik

2. Suhu Tanah
a. Tabel
NO HARI/TANGGAL KEDALAMAN (cm) LOKASI
OLAHAN RUMPUT HUTAN
1. Rabu, 03 Nov 2010 5 cm 360C 310C 260C
2. Rabu, 03 Nov 2010 10 cm 380C 300C 240C
3. Rabu, 03 Nov 2010 15 cm 360C 290C 230C

b. Grafik

B. Pembahasan

1. Suhu Udara
Pengamatan suhu udara dilakukan selama empat hari dan dilaksanakan setiap pukul 08.00-10.00 wib di Rumah Kawat, laboratorium IHPT dengan cara memperhatikan suhu maksimum udara dan suhu minimum udara. Setelah data suhu diperoleh maka diambil nilai rata-rata dalam satu hari. Itulah nilai suhu udara satu hari.Untuk menentukan suhu satu hari sebenarnya sebaiknya pengamatan dilakukan pada pagi, siang dan malam. Namun karena waktu tidak memungkinkan untuk mengetahui suhu tersebut secara kongkrit maka diambil kebijakan yaitu pengamatan hanya dilakukan sekali dalam satu hari yang dilaksanakan pada pagi hari saja. Hal tersebut tidak memungkinkan nilai suhu yang diperoleh tidak efesien karena keputusan tersebut tidak begitu mempengaruhi hasil yang akan dibahas.
Dari tabel menjelaskan bahwa suhu udara sifatnya tidak tetap dan selalu berubah-ubah sepanjang hari. Terjadinya perbedaan suhu dikibatkan oleh adanya kelembapan udara. Suhu udara sangat berpengaruh sekali di bidang pertanian dan biologi sebab dengan adanya pengamatan suhu udara maka kita dapat mengetahui jenis tanaman yang cocok untuk ditanam pada musim tersebut sebab tidak semua tanaman yang dibudidayakan hidup diudara panas mauapun diudara yang berlembab.
Dari pratikum yang dilakukan maka didapatkan bahwa suhu udara disetiap lokasi. Dan disetiap ketinggian tempat memiliki nilai derajat yang berbeda-beda, dimana temperatur maksimum dan minimum biasanya memiliki nilai yang berdekatan.
Sesuai dengan prosedur kerja yang telah ditentukan maka nilai suhu selama satu hari adalah

1. Pengamatan pada Kamis, 04 November 2010
T = 31-13/2 = 90C
2. Pengamatan pada Jumat, 05 November 2010
T = 38-28/2 = 50C

3. Pengamatan pada Senin, 08 November 2010
T = 33-29/2 = 20C

4. Pengamatan pada Selasa, 09 November 2010
T = 34-27/2 = 3,50C

2. Suhu Tanah

• Tanah Olahan
Pada kedalaman 5cm, didapatkan suhu sebesar 360C sedangkan pada kedalaman 10cm didapatkan suhu sebesar 380C dan kedalaman 15 cm, 360C. Hal ini menunjukkan bahwa terjadi kenaikan dan penurunan suhu sebesar 20C. Padahal seharusnya tanah yang semakin dalam/rendah , fluktuasi suhu-nya semakin rendah pula. Sebab panas yang dijalarkan terus berkurang jika lapisan tanah dalam sampai pada kedalaman tertentu. Namun panas yang dijalarkan dari permukaan bumi tidak berpengaruh lagi terhadap gelombang suhu. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Hal ini berarti terdapat kesalahan oleh praktikan. Bisa disebabkan oleh kesalahan mata dalam melihat skala thermometer. Atau bisa juga dikarenakan kesalahan pada pengukuran kedalaman tanah.
• Lapangan Rumput
Pada kedalaman 5cm, 10cm dan 15 cm diperoleh data yang beraturan. Dimana semakin dalam tanah, maka suhu semakin rendah. Hal ini menunjukkan bahwa pengamatn sesuai dengan sifat fluktuasi tanah. Data yang diperoleh secara berturut-turut, yakni 31 0C 300C 290C
• Tanah Hutan
Sama halnya dengan lapangan rumput, hal demikian ditemukan pada data suhu tanah. Pada tanah hutan menunjukkan adanya perbedaan suhu berdasarkan kedalaman yang berbeda pula yakni 260C, 240C dan 230C.
Ketiga lahan tersebut memiliki suhu yang berbeda disebabkan karena adanya perbedaan jumlah cahaya/ panas yang masuk pada lahan tersebut.

Suhu udara dan tanah:

Terjadinya perbedaan suhu udara dan tanah pada dua lokasi disebabkan karena adaya faktor lingkungan yang mempengaruhi suhu. Pada tempat terbuka suhu tanah sangat tinggi karena di pengaruhi oleh sinar matahari sedangkan pada tempat/lahan tertutup sinar yang masuk ke permukaan tanah sangat kurang sekali karena ditutupi oleh daun yang merambat sehingga suhu tanah sangat lembat.
Selain perbedaan lokasi suhu juga dipengaruhi oleh waktu yaitu antara pagi hari dan sore hari. Biasaya dipagi hari suhu tanah sangat rendah karena sinar matahari yang sampai kebumi tidak begitu panas dan juga kelembapan tanah masih basah. Sedangkan pada sore hari suhu tanah meningkat karena sinar matahari yang disampaikan kebumi sangat tinggi sekali pada waktu jam 2 siang dan tidak ada lagi kelembapan tanah karena semua sudah kering diserap oleh panas matahari menjadi partikel-partikel kecil yang akan membentuk awan.
KESIMPULAN

*Sifat panas dari udara dan tanah
Bila dibandingkan panas jenis udara dan tanah tidak jauh berbeda, tetapi kerapatan tanah seribu kali lebih besar daripada kerapatan udara. Oeh sebab itu tanah menyimpan panas yang lebih baik bila dibandingkan dengan udara. Dengan demikian tanah lebih cepat panas bila dibandingkan dengan udara. Benda yang memiliki kerapatan yang lebih tinggi menyimpan panas yang lebih baik. Benda yang mempunyai panas jenis yang lebih kecil mempunyai perubahan suhu yang lebih besar bila diberikan sejumlah panas yang sama.
Fluktuasi dan sebaran suhu menurut tempat dan waktu.

*Fluktuasi sebaran suhu menurut tempat dan waktu
Suhu udara bervariasi menurut tempat dan dari waktu ke waktu di permukaan bumi. Menurut tempat suhu udara bervariasi secara vertical dan horizontal dan menurut waktu dari jam ke jam dalam sehari, dan menurut bulanan dalam setahun.
Beberapa unsure yang mempengaruhi suhu secara horizontal di permukaan bumi antara lain :
1. Letak lintang suatu tempat.
a. Pengaruh arus laut
b. Distribusi antara daratan dan lautan
2. Penyebaran suhu udara menurut waktu dapat kita kaji dalam dua pola :
1. Pola suhu diurnal (suhu udara setiap jam selama 24 jam)
2. Pola suhu udara rata-rata harian menurut bulanan dan tahunan.

Data suhu berasal dari suhu rata-rata harian, bulanan, musiman dan tahunan.
1. Suhu rata-rata harian, yaitu:
Dengan menjumlahkan suhu maksimum dan minimum hari tersebut selanjutnya dibagi dua. Dengan mencatat suhu setiap jam pada hari tersebut selanjutnya dibagi 24
2. Suhu rata-rata bulanan yaitu dengan menjumlahkan rata-rata suhu harian selanjutnya dibagi 30
3. Suhu rata-rata tahunan yaitu dengan menjumlahkan suhu rata-rata bulanan yang selanjutnya dibagi 12
4. Suhu normal adalah angka suhu yang diambil dalam waktu 30 tahun.

Saran
Ada dua hal penyebab suhu di permukaan bumi berubah-ubah. Yakni karena faktor alam dan manusia. Dimana faktor alam terjadi secara alami dan faktor manusia dikarenakan penggunaan kosmetik, pembuatan bangunan berlapis kaca, penggunaan AC dan lain-lain yang menyebabkan konsentrasi CO2 meningkat sehingga terjadilah yang namanya efek rumah kaca yang produk akhirnya menyebabkan terjadinya pemanasan global. Jadi disini kita dihimbau dan disarankan agar kita mengurangi atau tidak melakukan kegiatan yang dapat menyebabkan ketidakstabilan suhu di permukaan bumi.

DAFTAR PUSTAKA

Departemen Ilmu-ilmu Tanah, Fakultas Pertanian, UGM, Yogyakarta, dan Ghalia Indonasia
Jakarta

Handoko, dr, dkk. 2003. Dasar Klimatologi. Bogor: Yudhistira

http://atmosfer.suhu.blogspot.com

http://rocky16amelungi.wordpress.com/2009/09/14/suhu-udara-tanah/

Kamala sari lubis.2007.Aplikasi Suhu dan Aliran PanasTtanah.USU.Medan

Kartasapoetra, G. A. Ir, 2004. Pengaruh Iklim Terhadap Tanah dan Tanaman. Jakarta: Bumi
Aksara

Tjasyono, Bayong, 2004. Klimatologi. Bandung: ITB