Laporan Praktikum Dasar Perlindungan Tanaman
Materi : Pengenalan Pengendalian dengan Varietas Tahan

Oleh :
Novita Inka Sari W ( 115040201111019 )
Asisten : Amalia Hakiki
Kelompok : Senin, jam 11.00
Kelas : F

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2011
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Dalam studi Dasar Perlindungan Tanaman terdapat suatu konsep segitiga interaksi antara tanaman, lingkungan dan hama. Dari komponen tanaman terdapat dua jenis tanaman yaitu, tanaman peka dan tanaman tahan. Kemudian, tanaman tahan terbagi atas tanaman toleran, Antibiosis dan Antisinosis.
Salah satu cara pengendalian hama dan penyakit tanaman adalah pengendalian dengan kualitas tahan, dimana maksudnya adalah menggunakan tanaman dengan varietas tahan agar tidak merusak maupun mengganggu keseimbangan ekosistem.

1.2 Tujuan
a. Mahasiswa mengetahui dan memahami definisi tanaman dengan varietas tahan.
b. Mahasiswa memahami mekanisme dan sifat-sifat tahan dari suatu tanaman.
c. Mahasiswa mengetahui dan memahami kelebihan dan kekurangan penggunaan varietas tahan.
d. Mahasiswa memahami efektifitas pengendalian dengan memanfaatkan varietas tanaman tahan

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definsi varietas tahan
a. Varietas tahan adalah sifat tanaman yang menderita kerusakan yang lebih
sedikit dibandingkan dengan tanaman lain dalam keadaan tingkat populasi
hama yang sama dan keadaan lingkungan yang sama. (Tuhfah,2011)
b. Varietas tahan adalah suatu sifat genetic tanaman yang mampu menghasilkan
produk yang lebih banyak dan lebih baik dibandingkan dengan varietas lain
pada tingkat populasi hama yang sama. (Samsudin,2011)
c. Varietas tahan adalah sifat tanaman yang memungkinkan tanaman itu
menghindar datau pulih kembali dari serangan hama pada keadaan yang akan
mengakibatkan kerusakan pada varietas lain yang tidak tahan. (Samsudin,2011)
2.2 Macam-macam sifat ketahanan tanaman
Ketahanan tanaman inang terhadap hama, dapat bersifat : (1) genetik, yaitu sifat tahan yang diatur oleh sifat-sifat genetik yang dapat diwariskan, (2) morfologi, yaitu sifat tahan yang disebabkan oleh sifat morfologi tanaman yang tidak menguntungkan hama, dan (3) ekologi, yaitu ketahanan tanaman yang disebabkan oleh pengaruh faktor lingkungan.
3.1. Ketahanan Genetik
Berdasarkan susunan dan sifat-sifat gen, ketahanan genetik dapat dibedakan menjadi : (1) monogenik, sifat tahan diatur oleh satu gen dominan atau resesif, (2) oligogenik, sifat tahan diatur oleh beberapa gen yang saling menguatkan satu sama lain, (3) polygenik, sifat tahan diatur oleh banyak gen yang saling menambah dan masing-masing gen memberikan reaksi yang berbeda-beda terhadap biotipe hama sehingga mengakibatkan timbulnya ketahanan yang luas. Ketahanan genetik juga dapat dibedakan menjadi beberapa tipe : (1) ketahanan vertikal, ketahanan hanya terhadap satu biotipe hama, dan biasanya bersifat sangat tahan tetapi mudah patah oleh munculnya biotipe baru, (2) ketahanan horizontal atau ketahanan umum, ketahanan terhadap banyak biotipe hama dengan derajat ketahanan “agak tahan “, dan (3) ketahanan ganda, memiliki sifat tahan terhadap beberapa jenis hama.
Tipe ketahanan vertikal dikendalikan oleh gen tunggal (monogenik) atau oleh beberapa gen (oligogenik ) dan hanya efektif terhadap biotipe hama tertentu. Secara umum sifat ketahanan vertikal mempunyai ciri-ciri : (1) biasanya diwariskan oleh gen tunggal atau hanya sejumlah kecil gen, (2) relatif mudah diidentifikasi dan banyak dipakai dalam program perbaikan ketahanan genetik, (3) biasanya dikaitkan dengan hipotesis “gen for gen” dari flor, (4) menghasilkan ketahanan genetik tingkat tinggi, tidak jarang mencapai imunitas, tetapi jika timbul biotipe baru maka ketahanan ini akan mudah patah dan biasanya tanaman menjadi sangat rentan terhadap biotipe tersebut, dan (5) biasanya menunda awal terjadinya epidemi, tetapi apabila terjadi epidemi maka kerentanannya tidak akan berbeda dengan kultivar yang rentan
Tipe Ketahanan horizontal disebut juga ketahanan kuantitatif. Tanaman yang memiliki ketahanan demikian masih menunjukan sedikit kepekaan terhadap hama tetapi memiliki kemampuan untuk memperlambat laju perkembangan epidemi. Secara teoritis, ketahanan horisontal efektif untuk semua biotipe suatu hama. Oleh karena itu, umumnya sulit dipatahkan meskipun muncul biotipe baru dengan daya serang yang lebih tinggi. Varietas dengan tipe ketahanan demikian dapat diperoleh dengan cara mempersatukan beberapa gen ketahanan minor ke dalam suatu varietas dengan karakter agronomik yang unggul melalui pemuliaan konvensional maupun non-konvesional. Ciri-ciri khusus ketahanan horizontal adalah : (1) biasanya memiliki tingkat ketahanan yang lebih rendah dibandingkan dengan tipe ketahanan vertikal, dan jarang didapat immunitas, (2) diwariskan secara poligenik dan dikendalikan oleh beberapa atau banyak gen, (3) pengaruhnya terlihat dari penurunan laju perkembangan epidemi.
Berdasarkan gambaran di atas dapat disimpulkan, bahwa pemanfaatan varietas unggul dengan tipe ketahanan horisontal akan efektif terutama bila pada daerah pertanaman terdapat beberapa biotipe hama, karena varietas ini mempunyai beberapa gen pengendali ketahanan (poligenik) sehingga akan mampu mengendalikan serangan beberapa biotipe hama. Salah satu kerugian pemanfaatan varietas unggul dengan ketahanan horizontal adalah karena sifat ketahanan ini masih memungkinkan terjadinya infestasi oleh hama. Walaupun tingkat infestasi tersebut tidak menimbulkan kerugian ekonomik, tetapi tingkat penerimaan konsumen mungkin menjadi rendah. Misalnya, rendahnya permintaan konsumen atas buah yang luka atau sedikit berlubang, juga hasil biji-bijian yang berubah warnanya akibat serangan hama
3. 2. Ketahanan Morfologi
Bentuk fisik dan struktur jaringan tanaman mempengaruhi penggunaannya sebagai inang oleh serangga. Dalam Tabel 1 dapat dilihat beberapa faktor fisik tanaman yang menyebabkan ketahanan dan pengaruhnya terhadap serangga
3. 3. Ketahanan Ekologi
Ketahanan ekologi atau ketahanan kelihatan (apparent resistance) atau ketahanan palsu (pseudo resistance) dikendalikan oleh keadaan lingkungan. Ketahanan ekologi ini tidak diturunkan dan tergantung dari kekuatan tekanan dari lingkungan. Ada 3 bentuk ketahanan ekologi yaitu; a) pengelakan inang (escape), misalnya fenologi tanaman dan fenologi serangga sangat jauh berbeda, b) ketahanan dorongan, misalnya; ketahanan yang disebabkan adanya unsur hara N,P,K yang sangat mempengaruhi populasi hama, contohnya adalah Aphis sangat peka terhadap kandungan N pada tanaman dan mempunyai respon negatif terhadap kandungan K, c) ketahanan karena luput dari serangan hama, hal ini terjadi dikarenakan serangga hama menyerang tanaman inang secara acak, sehingga ada beberapa tanaman luput dari serangan.
Tabel 1. Faktor-faktor ketahanan morfologi yang umum ditemukan pada tanaman
Faktor-faktor tanaman Pengaruhnya terhadap serangga
Ketebalan dinding sel, peningkatan kekerasan jaringan
Pemulihan jaringan-jaringan yang terluka
Kekokohan dan sifat-sifat lain dari batang

Rambut-rambut

Akumulasi lilin pada permukaan
Kandungan silica Gangguan pada makan dan mekanisme peletakan telur
Serangga mati setelah pelukaan awal
Gangguan pada makan, mekanisme peletakan telur, dehidrasi telur
Pengaruh pada makan, pencernaan, peletakan telur, daya gerak, menempel, pengaruh racun dan pengacauan oleh alelokimia kelenjar rambut, halangan sebagai tempat tinggal
Pengaruh pada kolonisasi dan peletakan telur
Abrasi kutikula, hambatan makan
Berbagai pengaruh
(Samsudin,2011)
2.3 Mekanisme ketahanan tanaman
Mekanisme resistensi tanaman terhadap serangan hama dan penyakit ke dalam 3 bentuk, yaitu:
a. Ketidaksukaan (non preferences) atau juga disebut antixenotis, yaitu menolak kehadiran serangga pada tanaman. Bentuk mekanisme resistensi non preferences dibagi dalam dua kelompok, yaitu: antixenotis kimiawi, menolak kerana adanya senyawa allelokimia, dan antixenotis fisik, menolak karena adanya struktur atau morfologik tanaman.
b. Antibiotis yaitu semua pengaruh fisiologis pada hama yang merugikan dan bersifat sementara atau yang tetap, yang merupakan akibat dari hama yang memakan dan mencerna jaringan atau cairan tanaman tertentu. Gejala-gejala akibat antibiotis pada hama diantaranya, adalah: kematian larva atau pradewasa, pengurangan laju pertumbuhan, peningkatan mortalitas pupa, ketidakberhasilan dewasa keluar dari pupa, imago tidak normal dan fekunditas serta fertilitas rendah, masa hidup serangga berkurang, terjadi malformasi morfologik, kegagalan mengumpulkan cadangan makanan dan kegagalan hibernasi, perilaku gelisah dan abnormalitas lainnya.
Gejala-gejala abnormal tersebut terjadi diakibatkan oleh beberapa hal, antara lain: adanya metabolit toksik pada jaringan tanaman seperti alkaloid, glukosid dan quinon, tidak ada atau kurang tersedianya unsur nutrisi utama bagi hama, ketidakseimbangan perbandingan unsur-unsur nutrisi yang tersedia, adanya antimetabolit yang menghalangi ketersediaan beberapa unsur nutrisi bagi hama, dan adanya enzim-enzim yang mampu menghalangi proses pencernaan makanan dan pemanfaatan unsur nutrisi oleh serangga.
c. Toleran merupakan respon tanaman terhadap hama, sehingga beberapa ahli tidak memasukannya dalam ketahanan. Beberapa faktor yang mengakibatkan tanaman toleran terhadap serangan hama, adalah:
• kekuatan tanaman secara umum,
• pertumbuhan kembali jaringan tanaman yang rusak,
• ketegaran batang dan ketahanan terhadap rebah,
• produksi cabang tambahan,
• pemanfaatan lebih efisien oleh serangga dan kompensasi lateral oleh tanaman tetangganya.
Ketahanan tanaman inang terhadap hama, dapat bersifat :
(1) genetik, yaitu sifat tahan yang diatur oleh sifat-sifat genetik yang dapat diwariskan,
(2) morfologi, yaitu sifat tahan yang disebabkan oleh sifat morfologi tanaman yang tidak menguntungkan hama, dan
(3) ekologi, yaitu ketahanan tanaman yang disebabkan oleh pengaruh faktor lingkungan.
(Sylvia,2011)
2.4 Kelebihan dan kekurangan penggunaan varietas tahan
Sebagai komponen PHT beberapa kelebihan penggunaan varietas tahan hama adalah:
1. Penggunaan praktis dan secara ekonomi menguntungkan
2. Sasaran pengendalian yang spesifik
3. Evektifitas pengendalian bersifat komulatif dan persisten
4. Kompatibilitas dengan komponen PHT lainnya
5. Dampak negative terhadap lingkungan terbatas
Disamping keuntungan-keuntungan tersebut diatas teknik pengendalian ini juga memiliki beberapa keterbatasan atau permasalahan yang perlu kita ketahui antara lain:
1. Waktu dan biaya pengembangan yang besar
2. Keterbatasan sumber ketahanan
3. Timbulnya biotipe hama
4. Sifat ketahanan yang berlawanan
(Tuhfah,2011)

BAB III
METODOLOGI
3.1 Alat dan Bahan (beserta fungsi)
 Alat
a. Kotak preferensi : sebagai tempat menyimpan tanaman dan imago hama bongkeng
 Bahan
a. Ubi jalar (warna ungu) : sebagai tanaman inang
b. Imago hama bongkeng : sebagai hama
3.2 Cara Kerja

BAB IV
PEMBAHASAN
4.1 Tabel Pengamatan (sebelum dan sesudah pengamatan)
No. Bahan pengamatan Jumlah hama sebelum pengamatan Jumlah hama sesudah pengamatan Keterangan
1. Ubi jalar 5 0 Ubi tetap utuh seperti semula

4.2 Analisa Hasil Pengamatan
Berdasarkan hasil pengamatan, ubi jalar yang di uji coba merupakan tanaman dengan varietas tahan,sebab, pada ubi tersebut tampak gejala-gejala serangan dari imago Cylas formicarius, dan tetap utuh seperti semula, sedangakan imago Cylas formicarius jumlahnya berkurang,bahkan tidak ada imago yang masih hidup setelah satu minggu.
Gejala serangan hama bongkeng terdapat lubang-lubang kecil bekas gerekan yang tertutup oleh kotoran berwarna hijau dan berbau menyengat. (Rahmat,1997)

BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengamatan, tanaman ubi jalar yang digunakan sebagai bahan praktikum merupakan tanaman dengan varietas tahan,sebab,setelah melakukan percobaan selama satu minggu, tanaman tersebut tetap utuh dan sehat, serta tidak tampak gejala-gejala serangan, dan juga jumlah imago hama yang dimasukkan ke dalam kotak preferensi menjadi nol.

5.2 Saran
a. Sesekali praktikum langsung di alam, sehingga paham bagaimanan cara
pengaplikasiannya pada keadaan yang sebenarnya.
b. Pengembalian laporan mohon jangan lama-lama, sehingga bila revisi tidak menumpuk dan cepat diketahui kesalahan dalam pembuatan laporan agar pada laporan berikutnya tidak terjadi kesalahan yang sama.

Daftar Pustaka
Ramadhani, Sylvia Rahmawati. 2011. Pengendalian dengan Varietas Tahan.
http://depeteqt.blogspot.com/ Di akses 27 November 2011
Rukmana, Rahmat, Ir. H.1997. UBI JALAR, Budi Daya Dan Pascapanen.
Kanisius : Bandung
Samsudin,Ir. H. 2011. Varietas tanaman tahan. http://www.pertaniansehat.or.id/index.php?pilih=news&mod=yes&aksi=lihat&id=75 Di akses 27 November 2011
Tuhfah,Riecha. 2011. Penggunaan Varietas Tahan. http://riecha-aryani.blogspot.com/2011/02/penggunaan-varietas-tahan.html Di akses 27 November 2011